WhatsApp Icon
Amalan Terbaik di Bulan Safar untuk Meraih Ridha Allah

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang sering kali diselimuti berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang masih menganggap Bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan atau musibah. Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah menjelaskan melalui hadis sahih bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya mengisi bulan ini dengan berbagai amal saleh yang dicintai Allah SWT. Salah satu cara terbaik adalah memperbanyak amalan terbaik bulan Safar sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Memahami amalan terbaik bulan Safar akan membantu umat Islam memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan hanya karena memasuki Bulan Safar, tetapi seluruh amalan sunnah yang dianjurkan dalam Islam tetap memiliki keutamaan apabila dilakukan dengan ikhlas. Dengan memperbanyak ibadah, seorang muslim dapat memperoleh pahala, ketenangan hati, keberkahan hidup, dan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.

Dalam artikel ini akan dibahas secara lengkap mengenai amalan terbaik bulan Safar, beserta dalil, hikmah, serta berbagai amalan yang dapat dilakukan selama bulan ini sesuai tuntunan syariat.


Mengenal Bulan Safar dalam Islam

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa Bulan Safar merupakan bulan yang membawa nasib buruk. Akibatnya, mereka menunda berbagai aktivitas penting seperti perjalanan, pernikahan, hingga perdagangan.

Islam datang untuk meluruskan keyakinan tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada kesialan pada Bulan Safar, dan tidak ada hantu."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa seluruh kejadian terjadi atas izin Allah SWT. Tidak ada bulan yang membawa keberuntungan ataupun kesialan secara zatnya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya mengisi Bulan Safar dengan amal saleh, bukan dengan rasa takut terhadap mitos yang bertentangan dengan akidah.


Mengapa Memperbanyak Amalan Terbaik Bulan Safar?

Pada dasarnya, semua waktu adalah kesempatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Bulan Safar bukan bulan yang memiliki ibadah khusus sebagaimana Ramadan atau bulan-bulan haram tertentu. Namun, memperbanyak amal saleh kapan pun merupakan anjuran yang memiliki keutamaan besar.

Beberapa alasan mengapa memperbanyak amalan terbaik bulan Safar sangat dianjurkan antara lain:

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
  • Menambah pahala sebagai bekal akhirat.
  • Membersihkan hati dari sifat buruk.
  • Menghapus dosa-dosa kecil.
  • Memperkuat hubungan dengan sesama muslim.
  • Menjadikan kehidupan lebih berkah.

Amalan Terbaik Bulan Safar yang Dianjurkan

1. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan salah satu ibadah yang paling dicintai Allah SWT. Selain membantu orang lain, sedekah juga menjadi sarana membersihkan harta dan jiwa.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki."

Sedekah dapat dilakukan kapan saja, termasuk selama Bulan Safar. Yang perlu diluruskan adalah niatnya, yaitu semata-mata mengharap rida Allah SWT, bukan karena keyakinan bahwa Bulan Safar membawa kesialan.


2. Membaca dan Mentadaburi Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah yang sangat dianjurkan setiap hari. Selain membaca, seorang muslim juga dianjurkan memahami makna ayat-ayat yang dibaca agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup merupakan salah satu amalan terbaik bulan Safar yang memberikan manfaat besar bagi dunia maupun akhirat.


3. Memperbanyak Zikir

Zikir adalah amalan ringan tetapi memiliki pahala yang besar. Dengan memperbanyak zikir, hati menjadi lebih tenang dan selalu mengingat kebesaran Allah SWT.

Beberapa bentuk zikir yang dapat dilakukan antara lain membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istigfar sesuai tuntunan Rasulullah SAW.


4. Memperbanyak Istigfar

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Oleh sebab itu, memperbanyak istigfar menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW sendiri memperbanyak istigfar setiap hari sebagai bentuk keteladanan bagi umatnya.

Istigfar menjadi salah satu amalan terbaik bulan Safar yang dapat dilakukan kapan saja tanpa batas waktu.


5. Menjaga Salat Wajib dan Menambah Salat Sunnah

Salat merupakan tiang agama. Selain menjaga salat wajib lima waktu, seorang muslim dianjurkan memperbanyak salat sunnah.

Beberapa salat sunnah yang dapat diamalkan selama Bulan Safar antara lain:

  • Salat Tahajud.
  • Salat Duha.
  • Salat Rawatib.
  • Salat Witir.

Amalan ini dapat meningkatkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.


6. Berpuasa Sunnah

Puasa sunnah merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan.

Beberapa puasa sunnah yang dapat dilaksanakan selama Bulan Safar yaitu:

  • Puasa Senin dan Kamis.
  • Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah apabila masih berada di Bulan Safar.
  • Puasa Daud bagi yang mampu.

Puasa melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.


7. Menjaga Silaturahmi

Menjalin hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan sesama muslim merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Silaturahmi menjadi sebab datangnya keberkahan umur dan rezeki sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.


8. Membantu Orang yang Membutuhkan

Membantu sesama tidak selalu berupa harta. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, atau perhatian kepada orang lain juga termasuk amal saleh.

Kepedulian sosial merupakan salah satu bentuk nyata dari akhlak seorang muslim.


9. Menuntut Ilmu Agama

Belajar agama adalah kewajiban setiap muslim. Mengikuti kajian, membaca buku-buku Islam, mendengarkan ceramah, atau mempelajari tafsir Al-Qur'an menjadi bagian dari amalan terbaik bulan Safar.

Dengan ilmu yang benar, seorang muslim dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat.


10. Memperbanyak Doa

Doa merupakan bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, dan keteguhan iman adalah amalan yang sangat dianjurkan setiap waktu.

Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk lebih sering berdoa dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.


Hikmah Mengamalkan Amalan Terbaik Bulan Safar

Melaksanakan berbagai amal saleh secara konsisten memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim.

Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan semakin mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Menambah Pahala

Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang gemar berbuat kebaikan.

Membersihkan Jiwa

Ibadah membantu menghilangkan sifat sombong, iri hati, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan.

Membentuk Akhlak yang Baik

Orang yang rajin beribadah cenderung memiliki akhlak yang lembut, sabar, jujur, dan penuh kasih sayang kepada sesama.

Mendapatkan Ketenangan Hati

Hati yang selalu mengingat Allah SWT akan lebih mudah menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Meluruskan Kesalahpahaman tentang Bulan Safar

Masih ada sebagian masyarakat yang menghubungkan Bulan Safar dengan berbagai ritual penolak bala atau keyakinan bahwa bulan ini membawa kesialan.

Dalam Islam, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Oleh karena itu, seorang muslim tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, membuka usaha, atau kegiatan lainnya hanya karena memasuki Bulan Safar.

Yang seharusnya dilakukan adalah memperbanyak amalan terbaik bulan Safar, meningkatkan tawakal kepada Allah SWT, serta menjauhi keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam.


Tips Istikamah Menjalankan Amalan Terbaik Bulan Safar

Agar amalan dapat dilakukan secara konsisten, berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:

  • Membuat target ibadah harian.
  • Menyusun jadwal membaca Al-Qur'an setiap hari.
  • Menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah.
  • Membiasakan salat sunnah sebelum dan sesudah salat wajib.
  • Mengikuti kajian Islam secara rutin.
  • Mengajak keluarga untuk beribadah bersama.
  • Memperbanyak doa agar diberi keistiqamahan.
  • Menghindari aktivitas yang tidak bermanfaat.

Dengan kebiasaan tersebut, seorang muslim akan lebih mudah menjaga kualitas ibadah sepanjang tahun.

Amalan terbaik bulan Safar pada hakikatnya adalah seluruh amal saleh yang dianjurkan dalam Islam dan dilakukan dengan ikhlas semata-mata mengharap rida Allah SWT. Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan, sehingga tidak ada alasan untuk merasa takut atau menunda aktivitas yang baik. Sebaliknya, bulan ini menjadi kesempatan untuk memperbanyak sedekah, membaca dan mentadaburi Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, menjaga salat wajib dan salat sunnah, berpuasa sunnah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, menuntut ilmu agama, serta memperbanyak doa.

Dengan memahami amalan terbaik bulan Safar, umat Islam dapat mengisi setiap hari dengan ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT. Jadikan Bulan Safar sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan ketakwaan. Semoga setiap amal yang dilakukan diterima oleh Allah SWT serta menjadi bekal menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

29/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS RI
Zakat Perdagangan: Dihitung dari Omzet atau Keuntungan

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh pelaku usaha adalah apakah zakat perdagangan dihitung dari omzet penjualan atau dari keuntungan usaha. Memahami cara perhitungan yang benar sangat penting agar zakat ditunaikan sesuai syariat. Dalam ketentuan yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional, zakat perdagangan tidak dihitung semata-mata dari omzet maupun keuntungan, melainkan dari harta dagang bersih yang telah memenuhi nisab dan haul.

Pengertian Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan adalah zakat yang dikenakan atas harta yang digunakan untuk kegiatan jual beli dengan tujuan memperoleh keuntungan. Objek zakat ini mencakup seluruh aset yang berkaitan dengan aktivitas usaha, baik usaha skala besar maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kewajiban zakat perdagangan berlaku apabila nilai harta usaha telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas dan dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Besaran zakat yang wajib ditunaikan adalah 2,5 persen dari harta yang wajib dizakati.

Dengan demikian, zakat perdagangan tidak didasarkan pada besarnya omzet penjualan atau laba bersih semata, melainkan pada nilai kekayaan usaha yang dimiliki pada akhir periode perhitungan.

Komponen Harta Dagang

Dalam menghitung zakat perdagangan, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhitungkan sebagai dasar penentuan harta bersih usaha.

Kas dan Saldo Rekening Usaha

Seluruh uang tunai maupun saldo rekening yang digunakan untuk kegiatan usaha termasuk dalam aset yang dihitung.

Persediaan Barang Dagangan

Barang yang masih tersimpan di gudang atau toko dan siap untuk dijual menjadi bagian dari harta perdagangan yang wajib diperhitungkan.

Piutang yang Dapat Ditagih

Piutang kepada pelanggan yang memiliki kemungkinan besar untuk dibayarkan juga termasuk dalam komponen harta dagang.

Utang Jangka Pendek

Utang usaha yang harus segera dilunasi dapat dikurangkan dari total aset sebelum menghitung zakat.

Apakah Omzet dan Keuntungan Menjadi Dasar Perhitungan?

Omzet dan keuntungan bukanlah dasar langsung dalam menghitung zakat perdagangan. Omzet hanya menunjukkan total nilai penjualan, sedangkan keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dan biaya.

Yang menjadi dasar perhitungan zakat adalah harta bersih usaha pada akhir periode, yaitu aset usaha setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.

Rumus Perhitungan

Secara umum, zakat perdagangan dihitung dengan rumus berikut:

Zakat Perdagangan = (Kas + Persediaan Barang + Piutang yang Dapat Ditagih - Utang Jangka Pendek) × 2,5 persen

Sebelum menghitung zakat, pastikan terlebih dahulu bahwa nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab sesuai nilai 85 gram emas yang berlaku.

 

Contoh Kasus UMKM

Misalnya seorang pemilik usaha kuliner memiliki kondisi keuangan sebagai berikut pada akhir tahun hijriah:

  • Kas usaha: Rp25.000.000
  • Persediaan bahan dan produk: Rp60.000.000
  • Piutang pelanggan: Rp15.000.000
  • Utang usaha jangka pendek: Rp20.000.000

Maka harta bersih usaha adalah:

Rp25.000.000 + Rp60.000.000 + Rp15.000.000 - Rp20.000.000 = Rp80.000.000

Apabila nilai Rp80.000.000 tersebut telah mencapai nisab berdasarkan harga emas yang berlaku, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah:

Rp80.000.000 × 2,5 persen = Rp2.000.000

Sebagai contoh lain, sebuah toko online memiliki omzet penjualan sebesar Rp500.000.000 dalam satu tahun. Namun, setelah dihitung, harta bersih usahanya hanya Rp90.000.000. Dalam kondisi ini, zakat tidak dihitung dari omzet Rp500.000.000, melainkan dari harta bersih usaha sebesar Rp90.000.000, selama telah memenuhi nisab dan haul.

Menunaikan Zakat Perdagangan dengan Tepat

Memahami dasar perhitungan zakat perdagangan membantu pelaku usaha menunaikan kewajibannya secara benar. Zakat tidak dihitung berdasarkan besarnya omzet atau keuntungan, melainkan berdasarkan nilai harta dagang bersih yang dimiliki setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.

Untuk mempermudah proses perhitungan, pelaku usaha dapat memanfaatkan kalkulator zakat yang disediakan oleh BAZNAS. Setelah mengetahui besaran zakat yang wajib ditunaikan, pembayaran dapat dilakukan melalui layanan BAZNAS sehingga dana zakat dapat dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

28/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS RI
Cara Menghitung Zakat Usaha Online dan Toko Digital
Perkembangan perdagangan digital membuat semakin banyak masyarakat menjalankan bisnis melalui marketplace, media sosial, maupun website. Meski dilakukan secara online, usaha tersebut tetap memiliki kewajiban zakat apabila telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memahami cara menghitung zakat usaha online sesuai pedoman yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional.
 
Apakah Usaha Online Wajib Zakat?
 
Ya, usaha online pada dasarnya memiliki ketentuan zakat yang sama dengan usaha perdagangan konvensional. Zakat dikenakan atas harta yang digunakan dalam kegiatan bisnis apabila telah memenuhi nisab dan haul.
 
Sesuai ketentuan BAZNAS, nisab zakat perdagangan setara dengan nilai 85 gram emas. Apabila nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun hijriah, maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5 persen.

Baik toko yang beroperasi melalui marketplace, media sosial, website, maupun aplikasi digital termasuk dalam kategori usaha perdagangan apabila aktivitas utamanya adalah jual beli barang atau jasa.

Komponen yang Dihitung

Perhitungan zakat usaha online dilakukan berdasarkan harta usaha yang dimiliki pada akhir periode perhitungan. Beberapa komponen yang diperhitungkan meliputi:

Kas dan Saldo Rekening Usaha

Seluruh uang tunai maupun saldo rekening yang digunakan untuk operasional bisnis menjadi bagian dari aset usaha yang diperhitungkan.

Persediaan Barang

Stok barang yang siap dijual, baik yang tersimpan di gudang, toko, maupun pusat distribusi, termasuk dalam objek perhitungan zakat.

Piutang yang Dapat Ditagih

Piutang dari pelanggan yang memiliki kemungkinan besar untuk dibayarkan juga dihitung sebagai bagian dari harta usaha.

Utang Jangka Pendek

Utang usaha yang telah jatuh tempo atau harus segera dibayarkan dapat dikurangkan dari total aset sebelum menghitung zakat.

Secara umum, rumus perhitungannya adalah:

Zakat Usaha = (Kas + Persediaan Barang + Piutang Lancar - Utang Jangka Pendek) x 2,5 persen

Perhitungan dilakukan setelah dipastikan bahwa nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab.

Contoh Perhitungan

Misalnya seorang pemilik toko online memiliki kondisi keuangan sebagai berikut pada akhir tahun hijriah:
  • Kas dan saldo rekening usaha: Rp40.000.000
  • Persediaan barang: Rp90.000.000
  • Piutang yang dapat ditagih: Rp20.000.000
  • Utang jangka pendek: Rp30.000.000
Maka total harta bersih usaha adalah:
Rp40.000.000 + Rp90.000.000 + Rp20.000.000 - Rp30.000.000 = Rp120.000.000

Apabila jumlah tersebut telah mencapai nisab berdasarkan nilai 85 gram emas yang berlaku, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah:

Rp120.000.000 x 2,5 persen= Rp3.000.000
 
Sebagai contoh lain, seorang pelaku usaha digital yang menjual produk melalui marketplace memiliki harta bersih usaha sebesar Rp75.000.000. Apabila jumlah tersebut belum mencapai nisab yang berlaku, maka zakat usaha belum diwajibkan. Namun, pemilik usaha tetap dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.
 
Cara Bayar Zakat Usaha

Setelah mengetahui besaran zakat yang harus dibayarkan, pelaku usaha dapat menunaikannya melalui layanan BAZNAS dengan langkah-langkah berikut:

1. Menghitung total harta bersih usaha pada akhir periode perhitungan.
2. Memastikan harta usaha telah memenuhi nisab dan haul.
3. Menghitung zakat sebesar 2,5 persen dari harta yang wajib dizakati.
4. Membayar zakat melalui kantor layanan BAZNAS atau kanal pembayaran digital yang tersedia.
5. Menyimpan bukti pembayaran sebagai dokumentasi.

Untuk mempermudah proses perhitungan, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan kalkulator zakat yang disediakan oleh BAZNAS sehingga hasilnya lebih praktis dan sesuai ketentuan.

Menunaikan Zakat Usaha untuk Keberkahan Bisnis
 
Zakat usaha merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud tanggung jawab sosial seorang pelaku usaha. Melalui zakat, sebagian harta yang dimiliki disalurkan kepada para mustahik sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
 
Bagi pelaku usaha online dan toko digital, menghitung serta menunaikan zakat secara rutin juga menjadi bagian dari pengelolaan bisnis yang baik. Selain menyucikan harta, zakat diharapkan membawa keberkahan bagi usaha dan mendukung berbagai program pemberdayaan yang dijalankan oleh BAZNAS demi meningkatkan kesejahteraan umat.
 
Untuk mendukung Program Bantuan Modal Usaha UMKM Mustahik BAZNAS Provinsi Kalbar, Bapak/Ibu, Abang Kakak bisa melakukannya secara online melalui link berikut ini: 
Program Bantuan Modal Usaha UMKM BAZNAS Kalbar. 
27/07/2026 | Kontributor: Helmi Anshari
Mengapa Zakat Penting untuk Mengurangi Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu tantangan sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Dalam Islam, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga instrumen yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui pengelolaan yang tepat, zakat untuk kemiskinan dapat menjadi solusi dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar, memberdayakan ekonomi, serta membuka peluang bagi mustahik untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Oleh karena itu, zakat memiliki peran penting dalam menciptakan pemerataan ekonomi dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Zakat sebagai Instrumen Pengentasan Kemiskinan

Zakat merupakan salah satu pilar ekonomi Islam yang bertujuan mendistribusikan sebagian harta dari muzaki kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik). Penyaluran zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk program-program produktif yang mendorong kemandirian ekonomi.

Melalui pengelolaan yang profesional, zakat dapat mendukung berbagai program pemberdayaan, seperti bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, zakat tidak hanya mengurangi beban kemiskinan dalam jangka pendek, tetapi juga membantu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Bagaimana Zakat Membantu Mengurangi Kemiskinan?

Peran zakat dalam mengurangi kemiskinan dapat dilihat dari berbagai aspek, di antaranya:

- Membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan, seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal.

- Mendukung akses pendidikan melalui beasiswa dan bantuan pendidikan sehingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

- Membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik melalui program kesehatan.

- Mendorong kemandirian ekonomi melalui bantuan modal usaha, pelatihan, dan pendampingan bagi pelaku usaha kecil.

- Mengurangi kesenjangan sosial dengan mendorong distribusi kekayaan yang lebih merata sesuai prinsip keadilan dalam Islam.

Ketika dikelola secara optimal, zakat dapat menjadi salah satu instrumen yang berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Peran BAZNAS dalam Pemberdayaan Masyarakat

Sebagai Badan Amil Zakat Nasional, BAZNAS mengelola dana zakat secara amanah, profesional, dan transparan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada para mustahik. Dana zakat disalurkan melalui berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, dan sosial yang dirancang untuk membantu masyarakat keluar dari kondisi rentan menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Melalui pendekatan pemberdayaan, BAZNAS berupaya agar zakat tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi kesejahteraan umat.

Tunaikan Zakat, Wujudkan Kepedulian terhadap Sesama

Setiap zakat yang ditunaikan memiliki peran dalam membantu mereka yang membutuhkan dan mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat. Dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS, Anda turut berkontribusi dalam upaya mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, dan mewujudkan kesejahteraan umat.

24/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS RI
Keutamaan Membayar Zakat: Membersihkan Harta, Menambah Keberkahan, dan Mewujudkan Kepedulian Sosial

Keutamaan membayar zakat tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga oleh setiap Muslim yang menunaikannya dengan ikhlas. Dalam Islam, zakat merupakan rukun Islam yang keempat dan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Melalui zakat, seorang Muslim tidak hanya menjalankan perintah Allah SWT, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesejahteraan masyarakat.

Lalu, apa saja keutamaan membayar zakat yang dijanjikan dalam ajaran Islam? Berikut ulasannya.

Apa Itu Zakat?

Secara bahasa, zakat berasal dari kata zaka yang berarti suci, bersih, tumbuh, dan berkah. Sementara secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik) sesuai ketentuan syariat. 

Allah SWT berfirman:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..."
(QS. At-Taubah: 103)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga sarana penyucian jiwa dan harta.

1. Membersihkan Harta dan Jiwa

Salah satu keutamaan membayar zakat adalah membersihkan harta dari hak orang lain sekaligus menyucikan jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Seorang Muslim yang berzakat belajar untuk ikhlas berbagi serta menyadari bahwa seluruh rezeki yang dimiliki merupakan titipan Allah SWT.

Dengan mengeluarkan zakat, seorang muzaki menumbuhkan rasa syukur sekaligus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

2. Mendatangkan Keberkahan Rezeki

Banyak orang mengira bahwa mengeluarkan zakat akan mengurangi harta. Padahal, Islam mengajarkan bahwa zakat justru menjadi sebab datangnya keberkahan.

Keberkahan tidak selalu diukur dari bertambahnya nominal harta, tetapi juga dari ketenangan hidup, kemudahan dalam mencari rezeki, kesehatan, serta perlindungan Allah SWT atas harta yang dimiliki. Inilah makna "bertambah" dalam konsep zakat, yaitu bertambah nilai manfaat dan keberkahannya. 

3. Menjalankan Salah Satu Rukun Islam

Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Rasulullah SAW bersabda:

"Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji bagi yang mampu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, menunaikan zakat bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga wujud ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT.

4. Membantu Mengurangi Kemiskinan

Keutamaan membayar zakat juga dirasakan secara luas oleh masyarakat. Dana zakat yang dikelola secara amanah dapat disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf), seperti fakir, miskin, amil, mualaf, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil, dan riqab.

Melalui pengelolaan yang profesional, zakat tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, hingga program pengembangan usaha bagi masyarakat kurang mampu. Dengan demikian, zakat menjadi instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. 

5. Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas Sosial

Zakat mengajarkan bahwa di dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Kesadaran ini membangun rasa empati terhadap sesama, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.

Ketika zakat ditunaikan secara optimal, roda perekonomian umat menjadi lebih sehat karena terjadi distribusi kekayaan yang lebih merata. Hal ini sejalan dengan tujuan syariat Islam yang mengedepankan keadilan dan kemaslahatan bersama.

6. Menjadi Investasi Amal Jangka Panjang

Harta yang dizakatkan bukanlah harta yang hilang. Sebaliknya, zakat menjadi investasi amal yang akan kembali kepada pemiliknya dalam bentuk pahala di sisi Allah SWT.

Selain memberikan manfaat bagi penerima zakat, amal tersebut menjadi bekal yang bernilai di akhirat. Oleh karena itu, zakat bukan sekadar transaksi materi, melainkan ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial.

Salurkan Zakat Melalui Lembaga Resmi

Agar zakat tersalurkan secara tepat sasaran, umat Islam dianjurkan menunaikannya melalui lembaga amil zakat resmi yang memiliki legalitas dan sistem pengelolaan yang transparan. Lembaga resmi akan memastikan zakat disalurkan kepada para mustahik sesuai ketentuan syariat sekaligus dikelola menjadi berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Keutamaan membayar zakat tidak hanya terbatas pada penyucian harta, tetapi juga menghadirkan keberkahan hidup, memperkuat kepedulian sosial, dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap sesama.

Mari tunaikan zakat tepat waktu melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Dengan zakat, harta menjadi lebih berkah, jiwa semakin bersih, dan kehidupan masyarakat menjadi lebih adil serta penuh kebermanfaatan.

23/07/2026 | Kontributor: Helmi Anshari

Artikel Terbaru

Kurban, Ibadah yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Kurban, Ibadah yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Idul Kurban tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual semata, tetapi juga memiliki peran besar sebagai motor penggerak ekonomi rakyat yang sering luput dari perhatian. Setiap tahunnya, momentum ini mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari peternakan, logistik, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di balik aktivitas penyembelihan hewan kurban di masjid dan lingkungan masyarakat, terjadi perputaran ekonomi yang sangat besar. Tidak hanya menciptakan peluang usaha, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan serta memperkuat solidaritas sosial melalui distribusi daging kepada masyarakat yang membutuhkan. Dampak Ekonomi yang Nyata Dalam dua tahun terakhir, pasokan hewan kurban mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 11,1 persen per tahun. Jika tren ini berlanjut, kebutuhan hewan kurban pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 2,2 hingga 2,4 juta ekor, dengan nilai ekonomi berkisar antara Rp27 triliun hingga Rp60 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa Idul Kurban memiliki kontribusi signifikan terhadap sektor peternakan dan ekonomi syariah. Di tengah tantangan perlambatan di beberapa sektor, kurban menjadi bukti bahwa konsumsi berbasis keagamaan mampu menciptakan efek berantai yang nyata bagi ekonomi riil. Menggerakkan UMKM dan Ekonomi Lokal Dampak positif kurban tidak hanya dirasakan oleh peternak. Lonjakan permintaan hewan kurban turut menggerakkan berbagai sektor usaha lokal. UMKM mendapatkan manfaat dari meningkatnya permintaan terhadap layanan seperti: Jasa pengemasan daging Penyewaan alat pemotongan Penyediaan tenda dan perlengkapan Kuliner berbasis olahan daging Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa usaha kemasan daging meningkat hingga 40 persen, sementara penyewaan tenda dan peralatan pemotongan naik sekitar 25 persen. Selain itu, aktivitas distribusi dan logistik hewan kurban juga menyerap banyak tenaga kerja musiman, sehingga turut membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Meningkatkan Kesejahteraan dan Gizi Masyarakat Di wilayah prasejahtera, distribusi daging kurban memiliki dampak yang sangat berarti. Bagi banyak keluarga, daging merupakan bahan pangan yang jarang dikonsumsi karena keterbatasan ekonomi. Melalui kurban, masyarakat dapat memperoleh asupan protein yang lebih baik, yang berkontribusi dalam: Meningkatkan kualitas gizi Mengurangi risiko stunting Mendukung kesehatan keluarga Lebih dari itu, kurban juga memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial, di mana masyarakat merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam kebahagiaan bersama. Transformasi Kurban di Era Digital Seiring perkembangan teknologi, pelaksanaan kurban kini semakin mudah melalui platform digital. Masyarakat dapat berkurban secara praktis, sementara distribusi daging dapat menjangkau wilayah terpencil hingga pelosok negeri. Diperkirakan, nilai transaksi kurban digital telah mencapai sekitar Rp2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga memperluas akses serta meningkatkan pemerataan distribusi manfaat kurban. Namun demikian, digitalisasi juga perlu diimbangi dengan tata kelola yang baik agar tetap transparan, amanah, dan tepat sasaran. Tantangan dan Peluang ke Depan Di balik besarnya potensi, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti: Kenaikan harga hewan ternak Ketergantungan pada impor Pengelolaan limbah kurban yang belum optimal Untuk itu, diperlukan langkah terpadu, antara lain: Penguatan peternakan lokal melalui pelatihan dan dukungan pemerintah Pemberdayaan koperasi dan BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa Pemanfaatan limbah kurban menjadi produk bernilai ekonomi Integrasi kurban dengan zakat, CSR, dan program pemberdayaan Dengan pengelolaan yang baik, kurban tidak hanya menjadi ibadah tahunan, tetapi juga dapat menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Kurban sebagai Kekuatan Sosial-Ekonomi Idul Kurban sejatinya adalah perpaduan antara nilai spiritual dan sosial. Ia tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan antar sesama manusia. Melalui kurban, terjadi distribusi kekayaan, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika dikelola secara profesional dan kolaboratif, kurban dapat menjadi kekuatan transformasional yang mendorong ekonomi inklusif dan berkeadilan. Mari jadikan momentum Idul Kurban sebagai sarana untuk tidak hanya beribadah, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun kesejahteraan umat.
ARTIKEL17/04/2026 | Helmi Anshari
Manfaat Berkurban di Idul Adha Tidak Hanya Untuk Dunia, Tapi Juga Akhirat
Manfaat Berkurban di Idul Adha Tidak Hanya Untuk Dunia, Tapi Juga Akhirat
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari yang penuh berkah ini, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama. Namun, ibadah kurban tidak hanya memiliki manfaat yang bersifat duniawi. Lebih dari itu, kurban juga memberikan dampak yang besar bagi kehidupan akhirat. Oleh karena itu, memahami manfaat berkurban secara menyeluruh dapat meningkatkan keimanan dan kesungguhan dalam menjalankannya. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT Manfaat utama dari berkurban adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini merupakan bentuk ketaatan atas perintah-Nya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Allah SWT berfirman: "Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi dari kurban bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada keikhlasan dan ketakwaan seorang hamba. Menghapus Dosa dan Menambah Pahala Berkurban juga menjadi salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap bagian dari hewan kurban akan menjadi pahala bagi orang yang berkurban. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga menjadi bekal berharga di akhirat kelak. Menumbuhkan Keikhlasan dan Jiwa Pengorbanan Ketika seseorang rela mengeluarkan harta terbaiknya untuk berkurban, ia sedang melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang ikhlas dan tidak terikat pada dunia. Ibadah kurban mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan, dan sebagian darinya harus dibagikan kepada yang membutuhkan. Nilai pengorbanan ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam membentuk karakter seorang Muslim. Meningkatkan Kepedulian Sosial Manfaat berkurban juga dirasakan secara langsung oleh masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu. Daging kurban yang dibagikan menjadi sumber kebahagiaan dan kecukupan bagi banyak orang, terutama pada hari raya. Melalui ibadah kurban, tercipta rasa kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Menjadi Wujud Syukur atas Nikmat Allah Berkurban juga merupakan bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan menyisihkan sebagian harta untuk berkurban, seorang Muslim menunjukkan bahwa ia menyadari segala nikmat berasal dari Allah. Rasa syukur ini tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Ibadah kurban yang dilaksanakan secara bersama-sama di lingkungan masyarakat juga mempererat hubungan antar sesama Muslim. Proses penyembelihan, pembagian, hingga penyaluran daging kurban menciptakan interaksi sosial yang positif. Hal ini menjadikan kurban sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Berkurban bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan amalan yang memiliki makna dan manfaat yang sangat luas, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Melalui kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, serta rasa syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mari manfaatkan momen Idul Adha untuk melaksanakan ibadah kurban dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT dan menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.
ARTIKEL16/04/2026 | Helmi Anshari
Memahami Makna Kurban dalam Islam: Ibadah Pengorbanan dan Ketakwaan kepada Allah
Memahami Makna Kurban dalam Islam: Ibadah Pengorbanan dan Ketakwaan kepada Allah
Setiap memasuki bulan Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut salah satu ibadah penting dalam Islam, yaitu ibadah kurban. Ibadah ini dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun, sebagian orang masih memandang kurban hanya sebagai kegiatan menyembelih hewan semata. Padahal, dalam Islam kurban memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kurban tidak hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, pengorbanan, serta bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Memahami makna kurban secara benar akan membuat ibadah ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Makna Kurban dalam Islam Secara bahasa, kata kurban berasal dari bahasa Arab qurban yang berakar dari kata qaruba, yang berarti dekat. Dalam konteks ibadah, kurban berarti menyembelih hewan ternak tertentu pada Hari Raya Idul Adha sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, kurban merupakan ibadah yang bertujuan memperkuat hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Melalui kurban, seorang Muslim menunjukkan ketaatan serta kesediaan untuk berkorban demi menjalankan perintah Allah. Lebih dari itu, ibadah kurban juga mengandung makna spiritual yang sangat dalam. Ketika seseorang berkurban, ia tidak hanya mengorbankan harta untuk membeli hewan, tetapi juga berusaha menghilangkan sifat egois, menumbuhkan keikhlasan, serta memperkuat rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang melaksanakannya. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai Teladan Kurban Ibadah kurban tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Perintah tersebut tentu merupakan ujian yang sangat berat. Namun Nabi Ibrahim tetap menjalankannya dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail, putranya menjawab dengan penuh kesabaran: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat: 102) Karena keikhlasan dan ketaatan mereka, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan sebagai bentuk rahmat dan penghargaan atas ketaatan mereka. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi teladan bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah kurban setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jenis Hewan Kurban dan Ketentuannya Dalam pelaksanaan ibadah kurban, terdapat beberapa ketentuan yang harus diperhatikan agar kurban yang dilakukan sah menurut syariat Islam. Hewan yang diperbolehkan untuk dijadikan kurban adalah hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba. Selain itu, hewan tersebut harus memenuhi syarat tertentu, seperti usia minimal dan kondisi kesehatan yang baik. Misalnya, kambing atau domba minimal berusia satu tahun, sedangkan sapi atau kerbau minimal berusia dua tahun. Hewan yang akan dijadikan kurban juga tidak boleh cacat, sakit, atau terlalu kurus. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beribadah kepada Allah, umat Islam dianjurkan untuk memberikan yang terbaik, bukan sesuatu yang kurang layak. Setelah disembelih, daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat. Sebagian dapat dikonsumsi oleh orang yang berkurban, sebagian diberikan kepada kerabat, dan sebagian lagi dibagikan kepada fakir miskin agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Nilai-Nilai Spiritual dalam Ibadah Kurban Ibadah kurban mengandung banyak nilai spiritual yang dapat membentuk karakter seorang Muslim. Pertama, kurban mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seseorang yang berkurban melakukannya semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari pujian atau pengakuan dari manusia. Kedua, kurban menumbuhkan kepedulian sosial. Melalui pembagian daging kurban, masyarakat yang kurang mampu dapat merasakan kebahagiaan dan kecukupan pangan pada hari raya. Ketiga, kurban melatih pengorbanan dan kesabaran. Seperti teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, umat Islam diajarkan untuk rela berkorban demi menjalankan perintah Allah. Keempat, kurban menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Kelima, ibadah kurban juga memperkuat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan antar sesama Muslim, karena pelaksanaannya sering dilakukan secara bersama-sama di lingkungan masyarakat. Ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan salah satu bentuk ibadah yang sarat dengan makna spiritual dan sosial. Melalui kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, serta rasa syukur kepada Allah SWT. Dengan memahami makna kurban secara lebih mendalam, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan ketakwaan. Semoga ibadah kurban yang kita lakukan menjadi amal yang diterima oleh Allah SWT serta membawa manfaat bagi sesama.
ARTIKEL14/04/2026 | Helmi Anshari
5 Tips Memilih Hewan Kurban yang Baik
5 Tips Memilih Hewan Kurban yang Baik
1. Pastikan Termasuk Hewan Ternak yang Diperbolehkan Dalam Islam, hewan yang sah untuk dijadikan kurban adalah hewan ternak tertentu, yaitu: Unta Sapi Kerbau Kambing Domba Hewan-hewan tersebut telah memenuhi ketentuan syariat sebagai hewan yang boleh dikurbankan. 2. Perhatikan Umur Hewan Kurban Umur hewan menjadi salah satu syarat penting dalam ibadah kurban. Setiap jenis hewan memiliki ketentuan umur minimal, yaitu: Kambing atau domba minimal berumur 1 tahun Sapi atau kerbau minimal berumur 2 tahun Untuk memastikan usia hewan, dapat dilihat dari catatan ternak yang dimiliki penjual. Selain itu, cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan memeriksa gigi hewan. Jika dua gigi susu bagian depan telah tanggal, biasanya menandakan hewan tersebut telah cukup umur untuk dijadikan kurban. 3. Pastikan Hewan dalam Kondisi Sehat dan Tidak Cacat Hewan kurban harus dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat yang dapat mengurangi kesempurnaan kurban. Beberapa ciri hewan sehat antara lain: Nafsu makan baik Aktif dan lincah Mata cerah dan bersih Bulu bersih dan mengkilap Hidung lembap (bukan karena sakit) Hindari memilih hewan yang menunjukkan tanda-tanda sakit seperti demam, diare, lemas, mata cekung, atau bulu kusam. Selain itu, hewan kurban tidak sah jika mengalami cacat berat seperti buta, pincang parah, atau kondisi lain yang jelas mengurangi kelayakannya. Akan lebih baik jika hewan dilengkapi dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) sebagai jaminan kesehatannya. 4. Pilih Hewan yang Tidak Kurus Kondisi fisik hewan juga perlu diperhatikan. Hewan kurban yang baik adalah hewan yang memiliki tubuh proporsional, tidak kurus, dan terlihat sehat. Ciri-cirinya antara lain: Tubuh berisi atau gemuk Gerakan aktif Mata bersinar Tidak tampak lemas Hewan yang sehat umumnya memiliki nafsu makan yang baik sehingga kondisi tubuhnya terjaga. 5. Pilih Tempat Pembelian yang Terpercaya Lokasi dan tempat membeli hewan kurban juga sangat penting. Pastikan hewan diternakkan di lingkungan yang bersih, sehat, dan jauh dari sumber pencemaran seperti tempat pembuangan sampah. Hewan yang dipelihara di lingkungan yang tidak sehat berisiko terpapar penyakit atau zat berbahaya yang dapat membahayakan konsumen. Sebagai solusi, masyarakat dapat memilih hewan kurban dari lembaga terpercaya seperti Balai Ternak BAZNAS yang telah menerapkan standar pengelolaan ternak secara profesional. Balai Ternak BAZNAS yang tersebar di berbagai daerah menjalankan prosedur ketat untuk menjaga kualitas hewan, antara lain: Pencatatan (recording) ternak secara berkala Penimbangan bobot ternak Perawatan rutin seperti pencukuran bulu dan pemandian Pemberian vitamin dan pakan berkualitas Pendampingan kesehatan ternak Dengan pengelolaan tersebut, hewan ternak yang dihasilkan lebih terjamin kualitas dan kesehatannya. Memilih Hewan Terbaik untuk Ibadah yang Lebih Sempurna Memilih hewan kurban bukan hanya soal memenuhi kewajiban, tetapi juga bentuk kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT. Dengan memilih hewan yang sehat, cukup umur, dan tidak cacat, ibadah kurban dapat dilaksanakan dengan lebih sempurna sesuai syariat.
ARTIKEL13/04/2026 | Helmi Anshari
Apa Itu Desil? Cara Pemerintah Mengelompokkan Tingkat Ekonomi Masyarakat
Apa Itu Desil? Cara Pemerintah Mengelompokkan Tingkat Ekonomi Masyarakat
Dalam berbagai program bantuan sosial, termasuk penyaluran zakat, sering muncul istilah desil. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami apa itu desil dan bagaimana penggunaannya dalam menentukan penerima bantuan. Memahami konsep desil sangat penting agar masyarakat mengetahui bagaimana pemerintah dan lembaga seperti BAZNAS menentukan kelompok yang berhak menerima bantuan. Pengertian Desil Secara sederhana, desil adalah metode pengelompokan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi yang dibagi menjadi 10 kelompok. Kata “desil” berasal dari pembagian data statistik menjadi sepuluh bagian yang sama besar. Dalam konteks ekonomi, desil digunakan untuk mengelompokkan masyarakat dari yang paling miskin hingga yang paling sejahtera. Pembagian Desil dalam Masyarakat Kelompok desil dibagi menjadi 10 tingkatan, yaitu: Desil 1 → Kelompok masyarakat paling miskin Desil 2 → Sangat rentan miskin Desil 3–4 → Rentan atau hampir miskin Desil 5–6 → Menengah Desil 7–9 → Menengah ke atas Desil 10 → Kelompok paling sejahtera Semakin kecil angka desil, maka semakin rendah tingkat kesejahteraannya. Fungsi Desil dalam Program Bantuan Desil digunakan oleh pemerintah untuk menentukan siapa yang berhak menerima bantuan sosial. Data ini biasanya bersumber dari pendataan kesejahteraan masyarakat seperti DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Dalam praktiknya: Bantuan sosial umumnya diberikan kepada Desil 1–4 Program pemberdayaan bisa menyasar Desil 1–6 Desil atas biasanya tidak menjadi prioritas penerima bantuan Peran Desil dalam Penyaluran Zakat Dalam konteks zakat, konsep desil membantu lembaga seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat dalam menentukan prioritas mustahik (penerima zakat). Meskipun dalam Islam penerima zakat ditentukan berdasarkan 8 asnaf, penggunaan data desil dapat membantu: Mengidentifikasi masyarakat yang benar-benar membutuhkan Memastikan zakat tepat sasaran Mendukung program pengentasan kemiskinan Dengan demikian, zakat tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga dapat diarahkan untuk program pemberdayaan ekonomi. Pentingnya Memahami Desil bagi Masyarakat Dengan memahami desil, masyarakat dapat: Mengetahui posisi tingkat kesejahteraannya Memahami alasan menerima atau tidak menerima bantuan Mendukung transparansi program sosial Hal ini juga membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penyaluran bantuan, baik dari pemerintah maupun lembaga zakat. Zakat dan Kepedulian Sosial Zakat tidak hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi juga sebagai solusi dalam mengurangi kesenjangan sosial. Dengan didukung data seperti desil, penyaluran zakat dapat menjadi lebih efektif dan tepat sasaran. Melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, zakat dapat dikelola secara profesional untuk membantu masyarakat yang berada pada kelompok ekonomi terbawah. Mari bersama-sama meningkatkan kepedulian sosial dan menyalurkan zakat melalui lembaga resmi agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan.
ARTIKEL10/04/2026 | Helmi Anshari
5 Kesalahan Umum dalam Membayar Zakat yang Perlu Diketahui
5 Kesalahan Umum dalam Membayar Zakat yang Perlu Diketahui
Zakat merupakan kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat tertentu. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga menjadi sarana untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan memperkuat kepedulian sosial. Namun dalam praktiknya, masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan dalam membayar zakat, baik karena kurangnya pemahaman maupun informasi yang belum tepat. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk mengetahui beberapa kesalahan yang sering terjadi agar zakat dapat ditunaikan dengan benar sesuai dengan tuntunan syariat. Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki peran penting dalam membersihkan harta dan jiwa seorang muslim. 1. Tidak Mengetahui Nishab Zakat Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak memahami nishab zakat, yaitu batas minimal harta yang menyebabkan seseorang wajib menunaikan zakat. Sebagai contoh, nishab zakat emas adalah setara dengan 85 gram emas. Jika harta seseorang belum mencapai nishab, maka ia belum wajib membayar zakat. Memahami nishab sangat penting agar seseorang mengetahui kapan zakat menjadi kewajiban baginya. 2. Menunda Pembayaran Zakat Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menunda pembayaran zakat meskipun harta telah mencapai nishab dan haul. Dalam Islam, zakat sebaiknya segera ditunaikan ketika telah memenuhi syarat agar harta menjadi bersih dan berkah. 3. Memberikan Zakat kepada Orang yang Tidak Berhak Tidak semua orang dapat menerima zakat. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa zakat hanya diberikan kepada delapan golongan (asnaf) sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Taubah ayat 60. Jika zakat diberikan kepada orang yang tidak termasuk dalam golongan tersebut, maka tujuan zakat untuk membantu mustahik tidak akan tercapai dengan baik. 4. Tidak Menghitung Harta dengan Benar Sebagian orang hanya menghitung sebagian hartanya ketika menunaikan zakat, padahal zakat seharusnya dihitung secara menyeluruh terhadap harta yang termasuk objek zakat. Misalnya: tabungan emas atau perak hasil usaha atau perdagangan investasi Dengan perhitungan yang tepat, zakat dapat dikeluarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5. Tidak Menyalurkan Zakat Secara Tepat Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menyalurkan zakat tanpa memastikan apakah penerima benar-benar termasuk golongan yang berhak. Oleh karena itu, menyalurkan zakat melalui lembaga resmi dapat membantu memastikan zakat disalurkan secara tepat sasaran. Pentingnya Menunaikan Zakat dengan Benar Menunaikan zakat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap sesama. Dengan memahami cara membayar zakat yang benar, umat Islam dapat memastikan bahwa zakat yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, zakat dapat dikelola secara profesional, amanah, dan transparan sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi kesejahteraan masyarakat. Mari tunaikan zakat dengan benar agar harta yang kita miliki menjadi lebih bersih, berkah, dan bermanfaat bagi sesama
ARTIKEL09/04/2026 | Helmi Anshari
Kenali 8 Asnaf Penerima Zakat dalam Islam Menurut Al-Qur’an
Kenali 8 Asnaf Penerima Zakat dalam Islam Menurut Al-Qur’an
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan umat. Selain sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, zakat juga menjadi sarana untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Dalam Islam, penyaluran zakat tidak dilakukan secara sembarangan. Allah SWT telah menetapkan delapan golongan penerima zakat yang disebut sebagai 8 Asnaf. Ketentuan ini dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60: "Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) hamba sahaya, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Ayat ini menjadi dasar utama dalam menentukan siapa saja yang berhak menerima zakat. 8 Golongan Penerima Zakat (Asnaf) yang Perlu Diketahui Berikut adalah 8 asnaf penerima zakat yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. 1. Fakir Fakir adalah orang yang hampir tidak memiliki harta maupun penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Kondisi mereka sangat kekurangan sehingga membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup. 2. Miskin Miskin adalah orang yang memiliki penghasilan atau pekerjaan, namun pendapatannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak. 3. Amil Zakat Amil zakat adalah orang yang bertugas mengelola zakat, mulai dari proses pengumpulan, pencatatan, pengelolaan hingga pendistribusian kepada para mustahik (penerima zakat). Di Indonesia, lembaga resmi seperti BAZNAS berperan sebagai amil zakat yang mengelola dana zakat secara profesional, amanah, dan transparan. 4. Muallaf Muallaf adalah orang yang baru memeluk Islam atau orang yang perlu dikuatkan hatinya agar semakin mantap dalam keimanan. Zakat dapat diberikan kepada muallaf untuk membantu mereka menjalani kehidupan sebagai seorang muslim. 5. Riqab (Memerdekakan Hamba Sahaya) Pada masa Rasulullah SAW, riqab merujuk kepada budak yang ingin memerdekakan dirinya. Bantuan zakat diberikan untuk membantu mereka memperoleh kebebasan. Dalam konteks modern, sebagian ulama memaknai riqab sebagai upaya membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan atau keterbelengguan. 6. Gharimin (Orang yang Berhutang) Gharimin adalah orang yang memiliki hutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak mampu melunasinya. Bantuan zakat dapat membantu mereka terbebas dari beban hutang yang memberatkan kehidupannya. 7. Fi Sabilillah Fi sabilillah berarti orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Dalam konteks luas, kategori ini mencakup berbagai kegiatan yang bertujuan untuk kemaslahatan umat seperti dakwah, pendidikan Islam, dan kegiatan sosial keagamaan. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa perjuangan di jalan Allah, termasuk dalam bidang pendidikan dan dakwah, merupakan amal yang sangat mulia. 8. Ibnu Sabil Ibnu sabil adalah orang yang sedang melakukan perjalanan jauh dan kehabisan bekal, sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanannya. Mereka berhak menerima zakat untuk membantu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tujuan. Pentingnya Menyalurkan Zakat Melalui Lembaga Resmi Menunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat membantu memastikan bahwa zakat yang ditunaikan disalurkan kepada 8 golongan yang berhak menerima zakat secara tepat sasaran. Dengan pengelolaan yang profesional, zakat tidak hanya membantu meringankan beban mustahik, tetapi juga dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi umat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan.
ARTIKEL08/04/2026 | Helmi Anshari
Hati-Hati dengan Dosa Jariyah: Dosa yang Terus Mengalir dalam Islam
Hati-Hati dengan Dosa Jariyah: Dosa yang Terus Mengalir dalam Islam
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan yang dapat menjadi amal jariyah, yaitu pahala yang terus mengalir walaupun seseorang telah meninggal dunia. Namun sebaliknya, Islam juga memperingatkan adanya dosa jariyah, yaitu dosa yang terus mengalir akibat perbuatan buruk yang dilakukan seseorang dan dampaknya terus berlanjut kepada orang lain. Memahami konsep dosa jariyah penting agar kita lebih berhati-hati dalam bertindak, berbicara, maupun menyebarkan sesuatu kepada orang lain. Pengertian Dosa Jariyah dalam Islam Secara sederhana, dosa jariyah adalah dosa yang terus mengalir karena suatu perbuatan buruk yang memberikan pengaruh kepada orang lain, sehingga selama perbuatan tersebut masih dilakukan atau diikuti, maka dosanya tetap mengalir kepada orang yang memulainya. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk dalam Islam, maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim) Hadits ini menjelaskan bahwa seseorang dapat menanggung dosa tidak hanya dari perbuatannya sendiri, tetapi juga dari orang lain yang mengikuti perbuatan buruk tersebut. Dalil Al-Qur’an Tentang Dosa yang Ditanggung Berlipat Allah SWT juga menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang menyesatkan orang lain akan menanggung dosa tambahan dari orang yang mengikutinya. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 25: "Agar mereka memikul dosa-dosanya secara sempurna pada hari kiamat dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun." Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang yang menyebabkan orang lain melakukan keburukan dapat menanggung dosa tambahan dari perbuatan tersebut. Contoh Dosa Jariyah dalam Kehidupan Sehari-hari Di era modern saat ini, dosa jariyah bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Beberapa contoh yang perlu diwaspadai antara lain: 1. Mengajarkan atau Mengajak kepada Perbuatan Maksiat Mengajak orang lain melakukan perbuatan yang dilarang agama, seperti perjudian, minuman keras, atau perbuatan maksiat lainnya. 2. Menyebarkan Konten Negatif Menyebarkan konten yang tidak baik, seperti fitnah, kebencian, atau hal-hal yang merusak moral masyarakat, terutama melalui media sosial. 3. Memberikan Contoh Buruk kepada Orang Lain Perilaku buruk yang ditiru oleh orang lain juga dapat menjadi dosa jariyah jika kebiasaan tersebut terus dilakukan. 4. Menyebarkan Ilmu yang Menyesatkan Memberikan informasi atau ajaran yang tidak benar sehingga membuat orang lain tersesat dari ajaran Islam yang benar. Menghindari Dosa Jariyah dalam Kehidupan Sebagai seorang muslim, penting untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan. Setiap ucapan, tindakan, maupun informasi yang kita sebarkan dapat memberikan pengaruh kepada orang lain. Sebaliknya, Islam menganjurkan umatnya untuk memperbanyak amal jariyah, seperti sedekah, membantu sesama, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan menolong orang yang membutuhkan. Rasulullah SAW bersabda: "Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim) Mengisi Hidup dengan Amal yang Bermanfaat Memahami konsep dosa jariyah mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan memiliki dampak yang bisa berlangsung lama. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak kebaikan dan menjauhi perbuatan yang dapat merugikan orang lain. Dengan memperbanyak sedekah, zakat, serta membantu sesama, kita tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga menanam amal yang pahalanya terus mengalir. Mari bersama-sama memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi perbuatan yang dapat menjadi dosa jariyah, agar kehidupan kita membawa manfaat bagi sesama dan menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.
ARTIKEL08/04/2026 | Helmi Anshari
Syarat-Syarat Harta yang Wajib Dizakatkan dalam Islam
Syarat-Syarat Harta yang Wajib Dizakatkan dalam Islam
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam kehidupan umat Muslim. Selain sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, zakat juga menjadi sarana untuk membantu sesama dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun tidak semua harta wajib dizakatkan. Dalam syariat Islam, terdapat beberapa syarat harta yang wajib dizakatkan agar seseorang dikenakan kewajiban membayar zakat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..." (QS. At-Taubah: 103) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi untuk membersihkan harta dan jiwa seorang muslim. Syarat-Syarat Harta yang Wajib Dizakatkan Para ulama menjelaskan bahwa terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu harta dikenakan kewajiban zakat. 1. Harta Milik Penuh Harta yang dizakatkan harus berada dalam kepemilikan penuh seseorang dan dapat digunakan atau dimanfaatkan secara bebas. Harta yang masih dalam sengketa, belum dimiliki sepenuhnya, atau tidak berada dalam kendali pemiliknya tidak termasuk dalam harta yang wajib dizakatkan. 2. Harta yang Berkembang atau Berpotensi Berkembang Harta yang wajib dizakatkan adalah harta yang memiliki potensi untuk berkembang atau menghasilkan keuntungan. Contohnya: Harta perdagangan Tabungan Investasi Hasil pertanian Peternakan Harta yang hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi seperti rumah tinggal, kendaraan pribadi, atau pakaian tidak termasuk objek zakat. 3. Mencapai Nishab Nishab adalah batas minimal harta yang menyebabkan seseorang wajib mengeluarkan zakat. Sebagai contoh: Nishab zakat emas: 85 gram emas 14 karat (SK Ketua BAZNAS RI Nomor 15 Tahun 2026 Tentang Nilai Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa Tahun 2026) yaitu senilai Rp. 91.681.728,- pertahun atau Rp. 7.640.144 per bulan. Jika harta seseorang sudah mencapai nisab maka zakat wajib ditunaikan. Jika belum mencapai batas nishab, maka ia belum wajib menunaikan zakat. 4. Telah Mencapai Haul Haul adalah masa kepemilikan harta selama satu tahun hijriah. Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada kewajiban zakat pada suatu harta hingga berlalu satu tahun (haul)." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Namun ada beberapa jenis zakat yang tidak mensyaratkan haul, seperti zakat pertanian yang dikeluarkan setiap kali panen. 5. Melebihi Kebutuhan Pokok Harta yang wajib dizakatkan adalah harta yang melebihi kebutuhan dasar pemiliknya, seperti kebutuhan makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan keluarga. Islam tidak membebani seseorang untuk mengeluarkan zakat jika hartanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. 6. Bebas dari Hutang yang Mengurangi Nishab Jika seseorang memiliki hutang yang harus segera dibayar dan jumlah hutang tersebut mengurangi hartanya hingga di bawah nishab, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat. Hal ini karena kewajiban utama adalah menyelesaikan hutang terlebih dahulu. Pentingnya Menunaikan Zakat Menunaikan zakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membantu memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Rasulullah SAW bersabda: "Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji bagi yang mampu." (HR. Bukhari dan Muslim) Melalui zakat, harta yang dimiliki menjadi lebih berkah dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Tunaikan Zakat Melalui Lembaga Resmi Agar zakat tersalurkan secara tepat sasaran kepada para mustahik, umat Islam dianjurkan untuk menunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat. Dengan pengelolaan yang profesional dan amanah, zakat dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi umat serta membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan.
ARTIKEL08/04/2026 | Helmi Anshari
Apa Itu Sedekah? Pengertian, Keutamaan, dan Manfaatnya dalam Islam
Apa Itu Sedekah? Pengertian, Keutamaan, dan Manfaatnya dalam Islam
Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama, sedekah juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta membersihkan harta yang dimiliki. Dalam kehidupan sehari-hari, sedekah sering dipahami sebagai memberikan bantuan berupa harta kepada orang yang membutuhkan. Namun sebenarnya, makna sedekah dalam Islam jauh lebih luas dari sekadar memberikan uang atau barang. Pengertian Sedekah dalam Islam Secara bahasa, sedekah berasal dari kata “shadaqah” yang berarti kebenaran atau kejujuran. Sedekah menjadi bukti keimanan seseorang kepada Allah SWT melalui kepedulian terhadap sesama. Sedekah adalah pemberian secara sukarela yang dilakukan oleh seorang muslim kepada orang lain dengan tujuan mencari ridha Allah SWT, tanpa dibatasi oleh jumlah maupun waktu tertentu. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menjelaskan bahwa sedekah memiliki keutamaan besar karena Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang melakukannya. Sedekah Tidak Hanya Berupa Harta Dalam Islam, sedekah tidak selalu berupa uang atau barang. Banyak bentuk kebaikan yang juga termasuk sedekah. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap kebaikan adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim) Contoh sedekah dalam kehidupan sehari-hari antara lain: Memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan Memberikan makanan kepada fakir miskin Menolong orang yang kesulitan Memberikan senyuman kepada sesama Memberikan ilmu yang bermanfaat Menyingkirkan benda berbahaya di jalan Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bersedekah, tidak terbatas hanya pada orang yang memiliki banyak harta. Keutamaan Sedekah dalam Islam Sedekah memiliki banyak keutamaan yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. 1. Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas. 2. Menghapus Dosa Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. Tirmidzi) 3. Membuka Pintu Rezeki Banyak ulama menjelaskan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, bahkan dapat menjadi sebab bertambahnya keberkahan rezeki. 4. Mendatangkan Keberkahan Hidup Sedekah membuat harta menjadi lebih berkah serta memberikan ketenangan dalam kehidupan. Perbedaan Sedekah, Infak, dan Zakat Dalam Islam terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan pemberian harta, yaitu zakat, infak, dan sedekah. Zakat adalah kewajiban yang harus dikeluarkan oleh seorang muslim jika hartanya telah memenuhi syarat tertentu. Infak adalah pengeluaran harta untuk kepentingan kebaikan tanpa batasan tertentu. Sedekah memiliki makna lebih luas karena mencakup pemberian harta maupun perbuatan baik lainnya. Dengan demikian, sedekah dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Mari Perbanyak Sedekah Sedekah merupakan amalan yang sangat mulia karena tidak hanya membantu sesama, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi diri sendiri. Melalui sedekah, kita dapat menumbuhkan kepedulian sosial, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Mari jadikan sedekah sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan berbagi kepada sesama, kita turut menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan.
ARTIKEL08/04/2026 | Helmi Anshari
Mengenal Jenis-Jenis Infak dalam Islam dan Keutamaannya
Mengenal Jenis-Jenis Infak dalam Islam dan Keutamaannya
Infak merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam sebagai bentuk kepedulian sosial dan ketaatan kepada Allah SWT. Melalui infak, seorang muslim dapat membantu sesama serta berkontribusi dalam berbagai kegiatan kebaikan. Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan tertentu, infak bersifat lebih luas dan tidak dibatasi oleh jumlah maupun waktu. Infak dapat dilakukan kapan saja sesuai dengan kemampuan seseorang. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat." (QS. Al-Baqarah: 254) Ayat ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk gemar berinfak sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Pengertian Infak Infak secara bahasa berasal dari kata “anfaqa” yang berarti membelanjakan atau mengeluarkan harta. Secara istilah, infak adalah mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan yang diperintahkan dalam ajaran Islam, baik untuk membantu sesama, kegiatan sosial, maupun untuk kepentingan dakwah. Jenis-Jenis Infak dalam Islam Dalam praktiknya, infak dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan tujuan dan kondisi pemberiannya. 1. Infak Wajib Infak wajib adalah pengeluaran harta yang diwajibkan dalam syariat Islam. Contohnya: Nafkah kepada keluarga (istri, anak, dan orang tua) Kafarat atau denda dalam beberapa ketentuan syariat Nazar yang wajib ditunaikan Memberikan nafkah kepada keluarga termasuk infak yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: "Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu." (HR. Muslim) 2. Infak Sunnah Infak sunnah adalah pengeluaran harta yang dilakukan secara sukarela untuk kebaikan. Contohnya: Membantu fakir miskin Mendukung kegiatan dakwah Membantu pembangunan masjid Memberikan bantuan kepada korban bencana Infak jenis ini sangat dianjurkan karena dapat mendatangkan pahala yang besar. 3. Infak Mubah Infak mubah adalah pengeluaran harta untuk hal-hal yang diperbolehkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya: Membeli makanan Membeli pakaian Membiayai kebutuhan pribadi Selama tidak berlebihan dan tetap dalam batas yang wajar, pengeluaran ini termasuk hal yang diperbolehkan. 4. Infak Haram Infak haram adalah pengeluaran harta untuk hal-hal yang dilarang dalam Islam. Contohnya: Menggunakan harta untuk berjudi Membiayai perbuatan maksiat Mendukung kegiatan yang merugikan orang lain Infak jenis ini tentu tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan ajaran Islam. Keutamaan Berinfak Infak memiliki banyak keutamaan yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT akan melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang gemar berinfak. Infak sebagai Bentuk Kepedulian Sosial Infak menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Dengan berinfak, seorang muslim dapat membantu meringankan beban saudara-saudara yang membutuhkan. Melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, infak yang disalurkan dapat dikelola secara amanah dan tepat sasaran sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Mari jadikan infak sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari agar harta yang dimiliki menjadi lebih berkah dan bermanfaat bagi sesama.
ARTIKEL08/04/2026 | Helmi Anshari
Keutamaan Sedekah di 10 hari Terakhir
Keutamaan Sedekah di 10 hari Terakhir
Oleh: K.H.Didik Imam Wahyudi S.E, Ak. M.E RAMADAN merupakan bulan yang penuh dengan kemuliaan. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan melakukan amalan-amalan kebaikan salah satunya adalah bersedekah. Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Di bulan Ramadan, amalan sedekah memiliki keutamaan yang lebih besar. Terutama pada 10 malam terakhir, di mana pahala dari setiap amalan yang kita lakukan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Sedekah 10 malam terakhir Ramadan memiliki ke istimewaan. Pada malam-malam ini, terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Rasulullah SAW bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di 10 malam terakhir Ramadan." (HR. Bukhari dan Muslim). Sedekah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, setara dengan amalan yang dilakukan selama lebih dari 83 tahun. Untuk melaksanakan sedekah 10 malam terakhir Ramadan dengan optimal, ada beberapa tips dan trik yang dapat kita terapkan. Pertama, persiapkan niat dan hati kita sebelum bersedekah. Pastikan niat kita adalah untuk meraih ridha Allah SWT dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dengan niat yang ikhlas, sedekah yang kita berikan akan lebih bermanfaat dan membawa berkah. Kedua, tentukan jumlah sedekah yang akan kita berikan. Sesuaikan jumlah sedekah dengan kemampuan dan rezeki yang kita miliki. Ingatlah bahwa Allah SWT melihat keikhlasan hati kita, bukan jumlah harta yang kita berikan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Takutlah kepada api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma." (HR. Bukhari dan Muslim). Ketiga, pilihlah waktu yang tepat untuk bersedekah. Pada 10 malam terakhir Ramadan, cobalah untuk menyisihkan waktu setiap malam untuk bersedekah. Dengan demikian, kita dapat meraih keberkahan dan pahala dari malam Lailatul Qadar serta mendapatkan ridha Allah SWT. Keempat, manfaatkan teknologi untuk bersedekah. Di era digital ini, kita dapat dengan mudah bersedekah melalui berbagai platform online, seperti website Baznas Provinsi Kalbar. Dengan bersedekah secara online, kita dapat memastikan bahwa bantuan kita sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dengan lebih cepat dan efisien. Atau bisa langsung datang ke Kantor Baznas Provinsi Kalbar yang berada di Masjid Raya Mujahidin. Kelima, ajak keluarga dan teman-teman untuk bersama-sama bersedekah. Dengan melibatkan orang-orang terdekat, kita dapat saling mendukung dan memotivasi dalam menjalankan sedekah 10 malam terakhir Ramadan. Kebersamaan ini juga dapat mempererat hubungan kita dengan keluarga dan teman-teman. Dari uraian di atas, semoga kita bisa meraih Lailatur Qadar dengan kita istiqomah beribadah pada malam-malam 10 terakhir dibarengi dengan memberikan sedekah yang ikhlas. Wallahu a'lam bishshawab. *
ARTIKEL26/03/2025 | Helmi Anshari
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Kalimantan Barat.

Lihat Daftar Rekening →