WhatsApp Icon
Amalan Terbaik di Bulan Safar untuk Meraih Ridha Allah

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang sering kali diselimuti berbagai mitos di tengah masyarakat. Sebagian orang masih menganggap Bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan atau musibah. Padahal, anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW telah menjelaskan melalui hadis sahih bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya mengisi bulan ini dengan berbagai amal saleh yang dicintai Allah SWT. Salah satu cara terbaik adalah memperbanyak amalan terbaik bulan Safar sebagai bentuk ketaatan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Memahami amalan terbaik bulan Safar akan membantu umat Islam memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah. Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan hanya karena memasuki Bulan Safar, tetapi seluruh amalan sunnah yang dianjurkan dalam Islam tetap memiliki keutamaan apabila dilakukan dengan ikhlas. Dengan memperbanyak ibadah, seorang muslim dapat memperoleh pahala, ketenangan hati, keberkahan hidup, dan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat.

Dalam artikel ini akan dibahas secara lengkap mengenai amalan terbaik bulan Safar, beserta dalil, hikmah, serta berbagai amalan yang dapat dilakukan selama bulan ini sesuai tuntunan syariat.


Mengenal Bulan Safar dalam Islam

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Pada masa jahiliah, masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa Bulan Safar merupakan bulan yang membawa nasib buruk. Akibatnya, mereka menunda berbagai aktivitas penting seperti perjalanan, pernikahan, hingga perdagangan.

Islam datang untuk meluruskan keyakinan tersebut. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada kesialan pada Bulan Safar, dan tidak ada hantu."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menegaskan bahwa seluruh kejadian terjadi atas izin Allah SWT. Tidak ada bulan yang membawa keberuntungan ataupun kesialan secara zatnya. Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya mengisi Bulan Safar dengan amal saleh, bukan dengan rasa takut terhadap mitos yang bertentangan dengan akidah.


Mengapa Memperbanyak Amalan Terbaik Bulan Safar?

Pada dasarnya, semua waktu adalah kesempatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Bulan Safar bukan bulan yang memiliki ibadah khusus sebagaimana Ramadan atau bulan-bulan haram tertentu. Namun, memperbanyak amal saleh kapan pun merupakan anjuran yang memiliki keutamaan besar.

Beberapa alasan mengapa memperbanyak amalan terbaik bulan Safar sangat dianjurkan antara lain:

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
  • Menambah pahala sebagai bekal akhirat.
  • Membersihkan hati dari sifat buruk.
  • Menghapus dosa-dosa kecil.
  • Memperkuat hubungan dengan sesama muslim.
  • Menjadikan kehidupan lebih berkah.

Amalan Terbaik Bulan Safar yang Dianjurkan

1. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan salah satu ibadah yang paling dicintai Allah SWT. Selain membantu orang lain, sedekah juga menjadi sarana membersihkan harta dan jiwa.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki."

Sedekah dapat dilakukan kapan saja, termasuk selama Bulan Safar. Yang perlu diluruskan adalah niatnya, yaitu semata-mata mengharap rida Allah SWT, bukan karena keyakinan bahwa Bulan Safar membawa kesialan.


2. Membaca dan Mentadaburi Al-Qur'an

Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah yang sangat dianjurkan setiap hari. Selain membaca, seorang muslim juga dianjurkan memahami makna ayat-ayat yang dibaca agar dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup merupakan salah satu amalan terbaik bulan Safar yang memberikan manfaat besar bagi dunia maupun akhirat.


3. Memperbanyak Zikir

Zikir adalah amalan ringan tetapi memiliki pahala yang besar. Dengan memperbanyak zikir, hati menjadi lebih tenang dan selalu mengingat kebesaran Allah SWT.

Beberapa bentuk zikir yang dapat dilakukan antara lain membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan istigfar sesuai tuntunan Rasulullah SAW.


4. Memperbanyak Istigfar

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Oleh sebab itu, memperbanyak istigfar menjadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW sendiri memperbanyak istigfar setiap hari sebagai bentuk keteladanan bagi umatnya.

Istigfar menjadi salah satu amalan terbaik bulan Safar yang dapat dilakukan kapan saja tanpa batas waktu.


5. Menjaga Salat Wajib dan Menambah Salat Sunnah

Salat merupakan tiang agama. Selain menjaga salat wajib lima waktu, seorang muslim dianjurkan memperbanyak salat sunnah.

Beberapa salat sunnah yang dapat diamalkan selama Bulan Safar antara lain:

  • Salat Tahajud.
  • Salat Duha.
  • Salat Rawatib.
  • Salat Witir.

Amalan ini dapat meningkatkan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.


6. Berpuasa Sunnah

Puasa sunnah merupakan ibadah yang memiliki banyak keutamaan.

Beberapa puasa sunnah yang dapat dilaksanakan selama Bulan Safar yaitu:

  • Puasa Senin dan Kamis.
  • Puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah apabila masih berada di Bulan Safar.
  • Puasa Daud bagi yang mampu.

Puasa melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri.


7. Menjaga Silaturahmi

Menjalin hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan sesama muslim merupakan amalan yang sangat dianjurkan.

Silaturahmi menjadi sebab datangnya keberkahan umur dan rezeki sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.


8. Membantu Orang yang Membutuhkan

Membantu sesama tidak selalu berupa harta. Memberikan tenaga, waktu, ilmu, atau perhatian kepada orang lain juga termasuk amal saleh.

Kepedulian sosial merupakan salah satu bentuk nyata dari akhlak seorang muslim.


9. Menuntut Ilmu Agama

Belajar agama adalah kewajiban setiap muslim. Mengikuti kajian, membaca buku-buku Islam, mendengarkan ceramah, atau mempelajari tafsir Al-Qur'an menjadi bagian dari amalan terbaik bulan Safar.

Dengan ilmu yang benar, seorang muslim dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat.


10. Memperbanyak Doa

Doa merupakan bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, dan keteguhan iman adalah amalan yang sangat dianjurkan setiap waktu.

Bulan Safar dapat dijadikan momentum untuk lebih sering berdoa dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.


Hikmah Mengamalkan Amalan Terbaik Bulan Safar

Melaksanakan berbagai amal saleh secara konsisten memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim.

Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Setiap amal yang dilakukan dengan ikhlas akan semakin mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Menambah Pahala

Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang gemar berbuat kebaikan.

Membersihkan Jiwa

Ibadah membantu menghilangkan sifat sombong, iri hati, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan.

Membentuk Akhlak yang Baik

Orang yang rajin beribadah cenderung memiliki akhlak yang lembut, sabar, jujur, dan penuh kasih sayang kepada sesama.

Mendapatkan Ketenangan Hati

Hati yang selalu mengingat Allah SWT akan lebih mudah menghadapi berbagai ujian kehidupan.


Meluruskan Kesalahpahaman tentang Bulan Safar

Masih ada sebagian masyarakat yang menghubungkan Bulan Safar dengan berbagai ritual penolak bala atau keyakinan bahwa bulan ini membawa kesialan.

Dalam Islam, keyakinan tersebut tidak memiliki dasar yang sahih. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang melekat pada Bulan Safar. Oleh karena itu, seorang muslim tidak perlu menunda pernikahan, perjalanan, membuka usaha, atau kegiatan lainnya hanya karena memasuki Bulan Safar.

Yang seharusnya dilakukan adalah memperbanyak amalan terbaik bulan Safar, meningkatkan tawakal kepada Allah SWT, serta menjauhi keyakinan yang bertentangan dengan akidah Islam.


Tips Istikamah Menjalankan Amalan Terbaik Bulan Safar

Agar amalan dapat dilakukan secara konsisten, berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:

  • Membuat target ibadah harian.
  • Menyusun jadwal membaca Al-Qur'an setiap hari.
  • Menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah.
  • Membiasakan salat sunnah sebelum dan sesudah salat wajib.
  • Mengikuti kajian Islam secara rutin.
  • Mengajak keluarga untuk beribadah bersama.
  • Memperbanyak doa agar diberi keistiqamahan.
  • Menghindari aktivitas yang tidak bermanfaat.

Dengan kebiasaan tersebut, seorang muslim akan lebih mudah menjaga kualitas ibadah sepanjang tahun.

Amalan terbaik bulan Safar pada hakikatnya adalah seluruh amal saleh yang dianjurkan dalam Islam dan dilakukan dengan ikhlas semata-mata mengharap rida Allah SWT. Bulan Safar bukanlah bulan yang membawa kesialan, sehingga tidak ada alasan untuk merasa takut atau menunda aktivitas yang baik. Sebaliknya, bulan ini menjadi kesempatan untuk memperbanyak sedekah, membaca dan mentadaburi Al-Qur'an, berzikir, beristigfar, menjaga salat wajib dan salat sunnah, berpuasa sunnah, mempererat silaturahmi, membantu sesama, menuntut ilmu agama, serta memperbanyak doa.

Dengan memahami amalan terbaik bulan Safar, umat Islam dapat mengisi setiap hari dengan ibadah yang bernilai di sisi Allah SWT. Jadikan Bulan Safar sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan ketakwaan. Semoga setiap amal yang dilakukan diterima oleh Allah SWT serta menjadi bekal menuju kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

29/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS RI
Zakat Perdagangan: Dihitung dari Omzet atau Keuntungan

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh pelaku usaha adalah apakah zakat perdagangan dihitung dari omzet penjualan atau dari keuntungan usaha. Memahami cara perhitungan yang benar sangat penting agar zakat ditunaikan sesuai syariat. Dalam ketentuan yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional, zakat perdagangan tidak dihitung semata-mata dari omzet maupun keuntungan, melainkan dari harta dagang bersih yang telah memenuhi nisab dan haul.

Pengertian Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan adalah zakat yang dikenakan atas harta yang digunakan untuk kegiatan jual beli dengan tujuan memperoleh keuntungan. Objek zakat ini mencakup seluruh aset yang berkaitan dengan aktivitas usaha, baik usaha skala besar maupun Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kewajiban zakat perdagangan berlaku apabila nilai harta usaha telah mencapai nisab yang setara dengan 85 gram emas dan dimiliki selama satu tahun hijriah (haul). Besaran zakat yang wajib ditunaikan adalah 2,5 persen dari harta yang wajib dizakati.

Dengan demikian, zakat perdagangan tidak didasarkan pada besarnya omzet penjualan atau laba bersih semata, melainkan pada nilai kekayaan usaha yang dimiliki pada akhir periode perhitungan.

Komponen Harta Dagang

Dalam menghitung zakat perdagangan, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhitungkan sebagai dasar penentuan harta bersih usaha.

Kas dan Saldo Rekening Usaha

Seluruh uang tunai maupun saldo rekening yang digunakan untuk kegiatan usaha termasuk dalam aset yang dihitung.

Persediaan Barang Dagangan

Barang yang masih tersimpan di gudang atau toko dan siap untuk dijual menjadi bagian dari harta perdagangan yang wajib diperhitungkan.

Piutang yang Dapat Ditagih

Piutang kepada pelanggan yang memiliki kemungkinan besar untuk dibayarkan juga termasuk dalam komponen harta dagang.

Utang Jangka Pendek

Utang usaha yang harus segera dilunasi dapat dikurangkan dari total aset sebelum menghitung zakat.

Apakah Omzet dan Keuntungan Menjadi Dasar Perhitungan?

Omzet dan keuntungan bukanlah dasar langsung dalam menghitung zakat perdagangan. Omzet hanya menunjukkan total nilai penjualan, sedangkan keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dan biaya.

Yang menjadi dasar perhitungan zakat adalah harta bersih usaha pada akhir periode, yaitu aset usaha setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.

Rumus Perhitungan

Secara umum, zakat perdagangan dihitung dengan rumus berikut:

Zakat Perdagangan = (Kas + Persediaan Barang + Piutang yang Dapat Ditagih - Utang Jangka Pendek) × 2,5 persen

Sebelum menghitung zakat, pastikan terlebih dahulu bahwa nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab sesuai nilai 85 gram emas yang berlaku.

 

Contoh Kasus UMKM

Misalnya seorang pemilik usaha kuliner memiliki kondisi keuangan sebagai berikut pada akhir tahun hijriah:

  • Kas usaha: Rp25.000.000
  • Persediaan bahan dan produk: Rp60.000.000
  • Piutang pelanggan: Rp15.000.000
  • Utang usaha jangka pendek: Rp20.000.000

Maka harta bersih usaha adalah:

Rp25.000.000 + Rp60.000.000 + Rp15.000.000 - Rp20.000.000 = Rp80.000.000

Apabila nilai Rp80.000.000 tersebut telah mencapai nisab berdasarkan harga emas yang berlaku, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah:

Rp80.000.000 × 2,5 persen = Rp2.000.000

Sebagai contoh lain, sebuah toko online memiliki omzet penjualan sebesar Rp500.000.000 dalam satu tahun. Namun, setelah dihitung, harta bersih usahanya hanya Rp90.000.000. Dalam kondisi ini, zakat tidak dihitung dari omzet Rp500.000.000, melainkan dari harta bersih usaha sebesar Rp90.000.000, selama telah memenuhi nisab dan haul.

Menunaikan Zakat Perdagangan dengan Tepat

Memahami dasar perhitungan zakat perdagangan membantu pelaku usaha menunaikan kewajibannya secara benar. Zakat tidak dihitung berdasarkan besarnya omzet atau keuntungan, melainkan berdasarkan nilai harta dagang bersih yang dimiliki setelah dikurangi kewajiban jangka pendek.

Untuk mempermudah proses perhitungan, pelaku usaha dapat memanfaatkan kalkulator zakat yang disediakan oleh BAZNAS. Setelah mengetahui besaran zakat yang wajib ditunaikan, pembayaran dapat dilakukan melalui layanan BAZNAS sehingga dana zakat dapat dikelola secara amanah dan disalurkan kepada para mustahik melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.

28/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS RI
Cara Menghitung Zakat Usaha Online dan Toko Digital
Perkembangan perdagangan digital membuat semakin banyak masyarakat menjalankan bisnis melalui marketplace, media sosial, maupun website. Meski dilakukan secara online, usaha tersebut tetap memiliki kewajiban zakat apabila telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam syariat. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu memahami cara menghitung zakat usaha online sesuai pedoman yang digunakan oleh Badan Amil Zakat Nasional.
 
Apakah Usaha Online Wajib Zakat?
 
Ya, usaha online pada dasarnya memiliki ketentuan zakat yang sama dengan usaha perdagangan konvensional. Zakat dikenakan atas harta yang digunakan dalam kegiatan bisnis apabila telah memenuhi nisab dan haul.
 
Sesuai ketentuan BAZNAS, nisab zakat perdagangan setara dengan nilai 85 gram emas. Apabila nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun hijriah, maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5 persen.

Baik toko yang beroperasi melalui marketplace, media sosial, website, maupun aplikasi digital termasuk dalam kategori usaha perdagangan apabila aktivitas utamanya adalah jual beli barang atau jasa.

Komponen yang Dihitung

Perhitungan zakat usaha online dilakukan berdasarkan harta usaha yang dimiliki pada akhir periode perhitungan. Beberapa komponen yang diperhitungkan meliputi:

Kas dan Saldo Rekening Usaha

Seluruh uang tunai maupun saldo rekening yang digunakan untuk operasional bisnis menjadi bagian dari aset usaha yang diperhitungkan.

Persediaan Barang

Stok barang yang siap dijual, baik yang tersimpan di gudang, toko, maupun pusat distribusi, termasuk dalam objek perhitungan zakat.

Piutang yang Dapat Ditagih

Piutang dari pelanggan yang memiliki kemungkinan besar untuk dibayarkan juga dihitung sebagai bagian dari harta usaha.

Utang Jangka Pendek

Utang usaha yang telah jatuh tempo atau harus segera dibayarkan dapat dikurangkan dari total aset sebelum menghitung zakat.

Secara umum, rumus perhitungannya adalah:

Zakat Usaha = (Kas + Persediaan Barang + Piutang Lancar - Utang Jangka Pendek) x 2,5 persen

Perhitungan dilakukan setelah dipastikan bahwa nilai harta bersih usaha telah mencapai nisab.

Contoh Perhitungan

Misalnya seorang pemilik toko online memiliki kondisi keuangan sebagai berikut pada akhir tahun hijriah:
  • Kas dan saldo rekening usaha: Rp40.000.000
  • Persediaan barang: Rp90.000.000
  • Piutang yang dapat ditagih: Rp20.000.000
  • Utang jangka pendek: Rp30.000.000
Maka total harta bersih usaha adalah:
Rp40.000.000 + Rp90.000.000 + Rp20.000.000 - Rp30.000.000 = Rp120.000.000

Apabila jumlah tersebut telah mencapai nisab berdasarkan nilai 85 gram emas yang berlaku, maka zakat yang wajib ditunaikan adalah:

Rp120.000.000 x 2,5 persen= Rp3.000.000
 
Sebagai contoh lain, seorang pelaku usaha digital yang menjual produk melalui marketplace memiliki harta bersih usaha sebesar Rp75.000.000. Apabila jumlah tersebut belum mencapai nisab yang berlaku, maka zakat usaha belum diwajibkan. Namun, pemilik usaha tetap dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial.
 
Cara Bayar Zakat Usaha

Setelah mengetahui besaran zakat yang harus dibayarkan, pelaku usaha dapat menunaikannya melalui layanan BAZNAS dengan langkah-langkah berikut:

1. Menghitung total harta bersih usaha pada akhir periode perhitungan.
2. Memastikan harta usaha telah memenuhi nisab dan haul.
3. Menghitung zakat sebesar 2,5 persen dari harta yang wajib dizakati.
4. Membayar zakat melalui kantor layanan BAZNAS atau kanal pembayaran digital yang tersedia.
5. Menyimpan bukti pembayaran sebagai dokumentasi.

Untuk mempermudah proses perhitungan, pelaku usaha juga dapat memanfaatkan kalkulator zakat yang disediakan oleh BAZNAS sehingga hasilnya lebih praktis dan sesuai ketentuan.

Menunaikan Zakat Usaha untuk Keberkahan Bisnis
 
Zakat usaha merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud tanggung jawab sosial seorang pelaku usaha. Melalui zakat, sebagian harta yang dimiliki disalurkan kepada para mustahik sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
 
Bagi pelaku usaha online dan toko digital, menghitung serta menunaikan zakat secara rutin juga menjadi bagian dari pengelolaan bisnis yang baik. Selain menyucikan harta, zakat diharapkan membawa keberkahan bagi usaha dan mendukung berbagai program pemberdayaan yang dijalankan oleh BAZNAS demi meningkatkan kesejahteraan umat.
 
Untuk mendukung Program Bantuan Modal Usaha UMKM Mustahik BAZNAS Provinsi Kalbar, Bapak/Ibu, Abang Kakak bisa melakukannya secara online melalui link berikut ini: 
Program Bantuan Modal Usaha UMKM BAZNAS Kalbar. 
27/07/2026 | Kontributor: Helmi Anshari
Mengapa Zakat Penting untuk Mengurangi Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu tantangan sosial yang membutuhkan perhatian bersama. Dalam Islam, zakat tidak hanya menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga instrumen yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui pengelolaan yang tepat, zakat untuk kemiskinan dapat menjadi solusi dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar, memberdayakan ekonomi, serta membuka peluang bagi mustahik untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Oleh karena itu, zakat memiliki peran penting dalam menciptakan pemerataan ekonomi dan memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Zakat sebagai Instrumen Pengentasan Kemiskinan

Zakat merupakan salah satu pilar ekonomi Islam yang bertujuan mendistribusikan sebagian harta dari muzaki kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik). Penyaluran zakat tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan konsumtif, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk program-program produktif yang mendorong kemandirian ekonomi.

Melalui pengelolaan yang profesional, zakat dapat mendukung berbagai program pemberdayaan, seperti bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, beasiswa pendidikan, layanan kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, zakat tidak hanya mengurangi beban kemiskinan dalam jangka pendek, tetapi juga membantu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Bagaimana Zakat Membantu Mengurangi Kemiskinan?

Peran zakat dalam mengurangi kemiskinan dapat dilihat dari berbagai aspek, di antaranya:

- Membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan, seperti pangan, sandang, dan tempat tinggal.

- Mendukung akses pendidikan melalui beasiswa dan bantuan pendidikan sehingga meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

- Membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik melalui program kesehatan.

- Mendorong kemandirian ekonomi melalui bantuan modal usaha, pelatihan, dan pendampingan bagi pelaku usaha kecil.

- Mengurangi kesenjangan sosial dengan mendorong distribusi kekayaan yang lebih merata sesuai prinsip keadilan dalam Islam.

Ketika dikelola secara optimal, zakat dapat menjadi salah satu instrumen yang berkontribusi dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Peran BAZNAS dalam Pemberdayaan Masyarakat

Sebagai Badan Amil Zakat Nasional, BAZNAS mengelola dana zakat secara amanah, profesional, dan transparan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada para mustahik. Dana zakat disalurkan melalui berbagai program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, dan sosial yang dirancang untuk membantu masyarakat keluar dari kondisi rentan menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Melalui pendekatan pemberdayaan, BAZNAS berupaya agar zakat tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan bagi kesejahteraan umat.

Tunaikan Zakat, Wujudkan Kepedulian terhadap Sesama

Setiap zakat yang ditunaikan memiliki peran dalam membantu mereka yang membutuhkan dan mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat. Dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS, Anda turut berkontribusi dalam upaya mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, dan mewujudkan kesejahteraan umat.

24/07/2026 | Kontributor: Humas BAZNAS RI
Keutamaan Membayar Zakat: Membersihkan Harta, Menambah Keberkahan, dan Mewujudkan Kepedulian Sosial

Keutamaan membayar zakat tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga oleh setiap Muslim yang menunaikannya dengan ikhlas. Dalam Islam, zakat merupakan rukun Islam yang keempat dan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Melalui zakat, seorang Muslim tidak hanya menjalankan perintah Allah SWT, tetapi juga berkontribusi dalam membangun kesejahteraan masyarakat.

Lalu, apa saja keutamaan membayar zakat yang dijanjikan dalam ajaran Islam? Berikut ulasannya.

Apa Itu Zakat?

Secara bahasa, zakat berasal dari kata zaka yang berarti suci, bersih, tumbuh, dan berkah. Sementara secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik) sesuai ketentuan syariat. 

Allah SWT berfirman:

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka..."
(QS. At-Taubah: 103)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga sarana penyucian jiwa dan harta.

1. Membersihkan Harta dan Jiwa

Salah satu keutamaan membayar zakat adalah membersihkan harta dari hak orang lain sekaligus menyucikan jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Seorang Muslim yang berzakat belajar untuk ikhlas berbagi serta menyadari bahwa seluruh rezeki yang dimiliki merupakan titipan Allah SWT.

Dengan mengeluarkan zakat, seorang muzaki menumbuhkan rasa syukur sekaligus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

2. Mendatangkan Keberkahan Rezeki

Banyak orang mengira bahwa mengeluarkan zakat akan mengurangi harta. Padahal, Islam mengajarkan bahwa zakat justru menjadi sebab datangnya keberkahan.

Keberkahan tidak selalu diukur dari bertambahnya nominal harta, tetapi juga dari ketenangan hidup, kemudahan dalam mencari rezeki, kesehatan, serta perlindungan Allah SWT atas harta yang dimiliki. Inilah makna "bertambah" dalam konsep zakat, yaitu bertambah nilai manfaat dan keberkahannya. 

3. Menjalankan Salah Satu Rukun Islam

Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Rasulullah SAW bersabda:

"Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji bagi yang mampu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, menunaikan zakat bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga wujud ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT.

4. Membantu Mengurangi Kemiskinan

Keutamaan membayar zakat juga dirasakan secara luas oleh masyarakat. Dana zakat yang dikelola secara amanah dapat disalurkan kepada delapan golongan penerima (asnaf), seperti fakir, miskin, amil, mualaf, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil, dan riqab.

Melalui pengelolaan yang profesional, zakat tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, hingga program pengembangan usaha bagi masyarakat kurang mampu. Dengan demikian, zakat menjadi instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat. 

5. Menumbuhkan Kepedulian dan Solidaritas Sosial

Zakat mengajarkan bahwa di dalam setiap harta terdapat hak orang lain. Kesadaran ini membangun rasa empati terhadap sesama, mempererat ukhuwah Islamiyah, serta menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.

Ketika zakat ditunaikan secara optimal, roda perekonomian umat menjadi lebih sehat karena terjadi distribusi kekayaan yang lebih merata. Hal ini sejalan dengan tujuan syariat Islam yang mengedepankan keadilan dan kemaslahatan bersama.

6. Menjadi Investasi Amal Jangka Panjang

Harta yang dizakatkan bukanlah harta yang hilang. Sebaliknya, zakat menjadi investasi amal yang akan kembali kepada pemiliknya dalam bentuk pahala di sisi Allah SWT.

Selain memberikan manfaat bagi penerima zakat, amal tersebut menjadi bekal yang bernilai di akhirat. Oleh karena itu, zakat bukan sekadar transaksi materi, melainkan ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial.

Salurkan Zakat Melalui Lembaga Resmi

Agar zakat tersalurkan secara tepat sasaran, umat Islam dianjurkan menunaikannya melalui lembaga amil zakat resmi yang memiliki legalitas dan sistem pengelolaan yang transparan. Lembaga resmi akan memastikan zakat disalurkan kepada para mustahik sesuai ketentuan syariat sekaligus dikelola menjadi berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Keutamaan membayar zakat tidak hanya terbatas pada penyucian harta, tetapi juga menghadirkan keberkahan hidup, memperkuat kepedulian sosial, dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera. Sebagai salah satu rukun Islam, zakat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap sesama.

Mari tunaikan zakat tepat waktu melalui BAZNAS agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Dengan zakat, harta menjadi lebih berkah, jiwa semakin bersih, dan kehidupan masyarakat menjadi lebih adil serta penuh kebermanfaatan.

23/07/2026 | Kontributor: Helmi Anshari

Artikel Terbaru

7 Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan Sunnah yang Dianjurkan
7 Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan Sunnah yang Dianjurkan
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang dimuliakan Allah SWT. Bulan ini memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh dan menjadikan Muharram sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. 1. Muharram Termasuk Bulan yang Dimuliakan Allah SWT Allah SWT telah menetapkan empat bulan haram atau bulan mulia dalam satu tahun, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram..." (QS. At-Taubah: 36) Rasulullah SAW juga bersabda: "Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab." (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Disebut sebagai "Bulan Allah" Muharram memiliki keistimewaan tersendiri karena Rasulullah SAW menyebutnya sebagai "Syahrullah" atau Bulan Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim No. 1163) Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaannya dibanding bulan lainnya. 3. Terdapat Hari Asyura yang Penuh Keutamaan Tanggal 10 Muharram dikenal sebagai Hari Asyura. Pada hari tersebut, Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun. Ibnu Abbas RA meriwayatkan: "Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, 'Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir'aun dan kaumnya.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.' Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim) 4. Puasa Muharram Merupakan Puasa Sunnah Terbaik Setelah Ramadan Salah satu amalan utama pada bulan Muharram adalah puasa sunnah. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim No. 1163) Hadis ini menunjukkan bahwa puasa sunnah di bulan Muharram memiliki keutamaan yang sangat besar. 5. Puasa Asyura Menghapus Dosa Setahun yang Lalu Keutamaan terbesar Hari Asyura adalah dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya bagi orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim No. 1162) Karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. 6. Pahala Kebaikan Dilipatgandakan Para ulama menjelaskan bahwa amal saleh yang dilakukan pada bulan-bulan haram memiliki nilai yang lebih besar di sisi Allah SWT. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan: "Allah mengkhususkan empat bulan haram dengan kemuliaan dan menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar serta pahala amal saleh lebih agung." Karena itu, Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya. 7. Momentum Hijrah dan Awal Tahun Baru Islam Penanggalan Hijriah dimulai dari peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Oleh sebab itu, Muharram menjadi simbol perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Khalifah Umar bin Khattab RA menetapkan kalender Hijriah dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik awal perhitungan tahun Islam karena peristiwa tersebut menjadi tonggak kebangkitan umat Islam. Muharram menjadi momentum bagi setiap Muslim untuk melakukan evaluasi diri dan memperbarui semangat dalam beribadah. Amalan Sunnah yang Dianjurkan di Bulan Muharram 1. Puasa Tasu'a (9 Muharram) Rasulullah SAW bersabda: "Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim No. 1134) Puasa Tasu'a dilakukan untuk membedakan ibadah kaum Muslimin dengan kebiasaan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram. 2. Puasa Asyura (10 Muharram) Puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. 3. Memperbanyak Sedekah Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Sedekah di bulan mulia menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan. 4. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41) 5. Membaca dan Mengkaji Al-Qur'an Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari No. 5027) Penutup Muharram adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, Muharram menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan menghidupkan amalan-amalan sunnah seperti puasa Tasu'a dan Asyura, sedekah, dzikir, serta tilawah Al-Qur'an, semoga kita dapat meraih keberkahan dan ampunan Allah SWT di awal tahun Hijriah ini.
ARTIKEL15/06/2026 | Helmi Anshari
5 Keutamaan Beramal Secara Ikhlas yang Membuka Pintu Rezeki
5 Keutamaan Beramal Secara Ikhlas yang Membuka Pintu Rezeki
Dalam kehidupan seorang muslim, amal kebaikan menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah kepada Allah SWT. Namun, yang paling penting bukanlah seberapa besar amal itu dilakukan, melainkan bagaimana niat yang melandasinya. Keutamaan beramal secara ikhlas memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah, karena keikhlasan menjadi penentu diterima atau tidaknya suatu amal. Amal yang disertai niat ikhlas akan bernilai ibadah, sedangkan amal yang dilakukan demi pujian manusia tidak akan memiliki nilai di akhirat. Keutamaan beramal secara ikhlas bukan hanya berpengaruh terhadap pahala ukhrawi, tetapi juga berdampak pada ketenangan hati dan keberkahan hidup di dunia. Allah SWT menjanjikan banyak kebaikan bagi hamba-Nya yang senantiasa menata niat agar amalnya murni karena Allah semata. Rasulullah SAW pun menegaskan dalam hadis yang masyhur, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keutamaan beramal secara ikhlas juga mencerminkan kesempurnaan iman seseorang. Orang yang beramal tanpa pamrih dunia akan mendapatkan ganjaran berlipat dari Allah SWT. Bahkan, banyak ulama mengatakan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal saleh. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apa pun menjadi sia-sia. Dalam artikel ini, kita akan membahas delapan keutamaan beramal secara ikhlas yang bukan hanya membuka pintu pahala, tetapi juga membuka pintu rezeki bagi siapa saja yang menjaganya dengan hati bersih dan niat tulus. 1. Amal yang Diterima Allah SWT Keutamaan beramal secara ikhlas yang pertama adalah bahwa amal tersebut diterima di sisi Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5, Allah berfirman:“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Ayat ini menunjukkan bahwa keikhlasan adalah syarat utama diterimanya amal ibadah. Tanpa niat ikhlas, amal yang dilakukan tidak akan sampai kepada Allah. Keutamaan beramal secara ikhlas terletak pada kemurnian niat, yakni semata-mata karena mencari ridha Allah, bukan karena ingin dipuji atau dianggap dermawan. Seorang mukmin yang memahami keutamaan beramal secara ikhlas akan selalu introspeksi diri sebelum beramal. Ia akan memastikan bahwa niatnya tidak tercampur oleh keinginan duniawi. Dengan demikian, amal yang dilakukan menjadi ringan dan penuh makna, karena ia tidak mengharap balasan selain dari Sang Pencipta. Selain itu, Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat bagi amal yang dilakukan dengan ikhlas. Keutamaan beramal secara ikhlas juga membuat seseorang terhindar dari sifat riya’ (pamer), yang dapat menghapus pahala amal sebagaimana api memakan kayu kering. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan adalah bentuk penjagaan terhadap nilai ibadah itu sendiri. 2. Membuka Pintu Rezeki yang Tak Terduga Keutamaan beramal secara ikhlas yang kedua adalah terbukanya pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah SWT berfirman dalam surat At-Talaq ayat 2-3:“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” Ketika seseorang beramal dengan hati yang ikhlas, Allah akan melapangkan jalannya dan mencukupkan kebutuhannya. Keutamaan beramal secara ikhlas tidak hanya menenangkan batin, tetapi juga mengundang keberkahan dalam hidup. Banyak kisah para salaf saleh yang mendapatkan rezeki melimpah setelah beramal tanpa pamrih, hanya karena Allah SWT melihat ketulusan mereka. Beramal dengan ikhlas membuat seseorang lebih tenang dan tidak takut kehilangan. Ia sadar bahwa rezeki sejatinya datang dari Allah, bukan dari manusia. Inilah salah satu bentuk keutamaan beramal secara ikhlas yang nyata dirasakan oleh banyak orang beriman: keajaiban rezeki yang datang tanpa perhitungan manusia. Selain itu, amal yang dilakukan dengan niat tulus sering kali menjadi sebab datangnya bantuan Allah pada waktu yang tidak disangka. Keutamaan beramal secara ikhlas menjadikan seseorang dicintai Allah dan dimudahkan dalam segala urusan, baik dunia maupun akhirat. 3. Menumbuhkan Ketenangan dan Kebahagiaan Hati Salah satu keutamaan beramal secara ikhlas yang sangat dirasakan adalah lahirnya ketenangan batin. Amal yang dilakukan dengan niat karena Allah tidak membebani hati. Orang yang ikhlas beramal tidak peduli dengan komentar atau penilaian orang lain, karena yang ia cari hanyalah ridha Allah SWT. Dalam kehidupan modern yang serba kompetitif, banyak orang kehilangan ketenangan karena mengejar pengakuan. Namun, seorang mukmin yang memahami keutamaan beramal secara ikhlas akan merasa cukup dengan penilaian Allah. Ia tidak haus akan pujian, dan tidak kecewa ketika amalnya tidak diketahui orang lain. Keutamaan beramal secara ikhlas juga menjaga seseorang dari stres dan rasa iri. Orang yang ikhlas tidak akan membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia menikmati proses berbuat baik sebagai bentuk cinta kepada Allah, bukan sebagai ajang pembuktian diri. Itulah yang membuat hidupnya terasa damai dan penuh berkah. Bahkan, ulama sufi mengatakan bahwa keikhlasan adalah sumber kebahagiaan sejati. Keutamaan beramal secara ikhlas membuat hati selalu ringan dalam memberi dan berkorban. Ia merasa cukup dengan balasan Allah, bukan dengan pujian manusia. 4. Amal yang Bernilai Abadi Keutamaan beramal secara ikhlas berikutnya adalah amal tersebut menjadi bernilai abadi, meskipun pelakunya telah tiada. Amal yang dilakukan dengan keikhlasan akan terus mengalir pahalanya, seperti sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak saleh. Rasulullah SAW bersabda:“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Keutamaan beramal secara ikhlas menjadikan amal tersebut kekal di sisi Allah. Allah menjaga amal orang-orang yang tulus karena Dia mencintai keikhlasan hamba-Nya. Sebaliknya, amal yang disertai riya’ akan hilang pahalanya meski tampak besar di mata manusia. Oleh sebab itu, keutamaan beramal secara ikhlas menjadi dorongan bagi setiap muslim untuk selalu meluruskan niat sebelum beramal. Ia sadar bahwa yang dinilai Allah bukan seberapa banyak amalnya, tetapi seberapa tulus hatinya ketika berbuat kebaikan. 5. Ditinggikan Derajat oleh Allah SWT Keutamaan beramal secara ikhlas juga terlihat dari bagaimana Allah meninggikan derajat orang-orang yang tulus dalam amalnya. Dalam hadis riwayat Ahmad disebutkan:“Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” Seseorang yang beramal dengan ikhlas tidak mencari kehormatan dunia, namun Allah justru memberinya kehormatan yang sejati. Keutamaan beramal secara ikhlas menjadikan pelakunya dikenal di langit sebelum dikenal di bumi. Para malaikat mencatatnya sebagai hamba yang mulia karena ketulusan hatinya. Orang yang menjaga keikhlasan dalam amalnya juga akan dimuliakan dalam pandangan manusia tanpa ia memintanya. Ini adalah bukti nyata keutamaan beramal secara ikhlas: Allah-lah yang menanamkan cinta di hati manusia terhadap hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Keutamaan beramal secara ikhlas adalah rahasia besar yang membuka banyak pintu kebaikan dalam hidup seorang muslim. Dengan niat yang lurus, amal kecil bisa menjadi besar di sisi Allah, sementara amal besar tanpa keikhlasan bisa menjadi sia-sia. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan dalam setiap perbuatan menjadi kunci agar amal kita diterima dan diberkahi. Dalam kehidupan yang penuh ujian, godaan untuk beramal karena pujian atau keuntungan duniawi selalu ada. Namun, seorang mukmin sejati memahami bahwa keutamaan beramal secara ikhlas bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga membuka pintu rezeki, ketenangan hati, dan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa ikhlas dalam beramal, agar setiap langkah dan perbuatan kita menjadi ibadah yang diridhai Allah SWT.
ARTIKEL12/06/2026 | Habibi Zein
Kisah Umar bin Khattab : Kepemimpinan dan Kebijaksanaan yang Mengagumkan
Kisah Umar bin Khattab : Kepemimpinan dan Kebijaksanaan yang Mengagumkan
Dalam sejarah Islam, ada banyak sosok yang menjadi inspirasi tentang bagaimana seorang pemimpin seharusnya hadir bagi rakyatnya. Salah satunya adalah Umar bin Khattab RA, khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Umar memiliki peran penting dalam memperluas wilayah Islam dan membangun sistem pemerintahan yang adil. Umar bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi juga pribadi yang penuh kebijaksanaan. Keberanian, ketegasan, dan kepeduliannya membuat ia dikenang sebagai teladan kepemimpinan hingga hari ini. Dari Penentang Menjadi Pembela Islam Kisah hidup Umar bin Khattab memberi pelajaran besar tentang perubahan hati manusia. Ia lahir di Mekah pada tahun 584 M, tumbuh sebagai pribadi yang keras dan disegani. Bahkan sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai salah satu penentang paling gigih ajaran Nabi Muhammad SAW hingga pernah berniat membunuh Rasulullah demi mempertahankan keyakinan leluhurnya. Namun, takdir Allah begitu indah. Saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an di rumah Fatimah yang merupakan saudarinya, hatinya luluh. Umar yang awalnya berniat memusuhi Islam, justru memeluknya dengan sepenuh hati. Sejak saat itu, keberanian dan kekuatannya berpindah arah—dari menentang menjadi membela kebenaran. Nabi Muhammad SAW bahkan memberinya julukan Al-Faruq, yang berarti “pembeda antara yang benar dan yang salah”. Pemimpin yang Mengutamakan Keadilan Sebagai khalifah, Umar bin Khattab tidak hanya memperluas wilayah Islam hingga Persia, Mesir, Suriah, dan Palestina. Lebih dari itu, ia membangun sistem pemerintahan yang berkeadilan. Ia mendirikan Baitul Mal untuk memastikan harta negara digunakan bagi rakyat, membagi wilayah menjadi provinsi dengan pemimpin yang dipilih karena kemampuan, bukan karena kedekatan. Salah satu hal yang paling dikenang adalah kebiasaannya berjalan di malam hari untuk memastikan rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Umar tidak ingin hanya menerima laporan, ia ingin melihat langsung. Pernah suatu malam, ia mendapati seorang ibu yang menenangkan anaknya dengan panci kosong hanya agar sang anak bisa tertidur. Umar pun segera kembali membawa gandum di punggungnya sendiri, menyalakan api, dan memasak untuk keluarga itu. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan soal pelayanan. Beberapa pencapaian penting Umar Bin Khattab saat menjadi Khalifah : 1. Membagi Kekhalifahan menjadi Provinsi Umar membagi kekhalifahan menjadi beberapa provinsi dan menunjuk gubernur yang cakap untuk mengelolanya. Ia memastikan bahwa para pemimpin ini dipilih berdasarkan kemampuan dan integritas mereka, bukan karena hubungan keluarga atau kekayaan. 2. Mendirikan Baitul Mal Umar mendirikan Baitul Mal, atau perbendaharaan negara, yang mengelola keuangan negara. Melalui institusi ini, ia memastikan bahwa kekayaan negara digunakan untuk kepentingan rakyat, terutama yang miskin dan membutuhkan. 3. Menegakkan Keadilan Secara Adil Ia tidak pernah ragu untuk menegakkan hukum secara adil. Bahkan jika keputusannya mendapat kritik, ia dengan rendah hati menerima masukan dan melakukan koreksi jika diperlukan. Kebijaksanaan dalam Menghadapi Krisis Ketika Madinah dilanda kekeringan panjang, Umar tidak hanya berdoa memohon hujan, tetapi juga bergerak cepat. Ia mengirim bantuan dari berbagai provinsi, memastikan rakyatnya tidak dibiarkan menderita. Sikap ini menunjukkan kebijaksanaannya: doa harus disertai ikhtiar nyata. Selain itu, Umar memperkenalkan kalender Hijriyah dengan menjadikan peristiwa hijrah Nabi sebagai titik awal. Keputusan sederhana ini ternyata menjadi warisan besar yang masih kita gunakan hingga kini. Teladan Bagi Pemimpin Sepanjang Masa Kisah sahabat Umar bin Khattab bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah cermin kepemimpinan sejati: berani tapi lembut, tegas tapi penuh kasih, kuat tapi tetap rendah hati. Umar mengajarkan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang hanya berpidato di depan rakyatnya, melainkan yang hadir, peduli, dan siap memikul beban rakyat dengan tangannya sendiri. Dalam kehidupan modern, teladan Umar bin Khattab tetap relevan. Para pemimpin, baik dalam keluarga, organisasi, maupun negara, bisa belajar darinya bahwa kebijaksanaan dan keadilan adalah fondasi yang membuat kepemimpinan dihormati dan dicintai.
ARTIKEL11/06/2026 | HUMAS BAZNAS JABAR
1 Muharram Adalah Hari Penting: Makna dan Sejarahnya
1 Muharram Adalah Hari Penting: Makna dan Sejarahnya
Dalam agama Islam, Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang istimewa karena terdapat makna dan sejarah di dalamnya. Salah satu bukti bahwa Muharram merupakan bulan istimewa karena merupakan awal tahun baru hijriah dan 1 Muharram Adalah Hari PentingDalam sejarahnya, bulan Muharram merupakan salah satu diantara bulan-bulan yang mulia yang termasuk al-asyhur al-hurum atau bulan yang diharamkan untuk berperang.Bahkan Rasulullah SAW memandang bulan Muharram sebagai bulan yang utama setelah bulan Ramadhan. Karena kemulian tersebut, maka umat Islam disunnahkan untuk berpuasa pada hari Asyura, atau menurut pendapat para ulama pada tanggal 10 Muharram.Selain itu, bulan Muharram memiliki keutamaan karena dipilih oleh Allah SWT sebagai momen pengampunan umat Islam dari dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat. Terlebih lagi pada bulan Muharram memiliki keistimewaan karena menjadi awal tahun dalam kalender hijriah. Maka dari itu, umat Islam hendaknya mengetahui sejarah tahun baru Hijriah, yakni sejarah penanggalan atau penetapan kalender Islam yang diawali dengan 1 Muharram.Dikutip dari laman NU Online, Muharam merupakan bulan pertama yang dipakai di kalender umat Islam. Kalender ini disebut juga dengan penanggalan Qomariyah atau Hijriyah.Apabila diambil dari riwayat para ulama pakar tarikh yang terkemuka, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriyah.Ditinjau kisahnya, hal ini terjadi dikarenakan pada suatu hari, Umar menerima sepucuk surat dari sahabatnya yang bernama Abu Musa Al-Asyari RA. Namun surat tersebut tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya.Kondisi ini tentu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu yang harus diurusnya. Karena ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru.Dengan demikian, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.Singkatnya, musyawarah yang diselenggrakan Umar bersama para sahabatnya tadi telah menghasilkan beberapa pilihan tahun bersejarah untuk dijadikan sebagai patokan memulai tarikh Islam tersebut. Diantaranya, tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah.Dadi beberapa pilihan tersebut, akhirnya ditetapkanlah bahwa tarikh Islam dimulai dari hari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah menuju Madinah menjadi awal tarikh Islam, yaitu awal tahun Hijriyah. Ketetapan ini sesuai dengan usulan Ali bin Thalib.Itulah penjelasan singkat mengenai 1 Muharram Adalah Hari Penting dalam ajaran Islam. Semoga bermanfaat.
ARTIKEL09/06/2026 | Helmi Anshari
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia memperingati datangnya Tahun Baru Hijriah. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, padahal peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tidak terjadi tepat pada bulan Muharram? Penetapan kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, wilayah Islam semakin luas dan kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku menjadi sangat penting untuk administrasi pemerintahan, surat-menyurat, serta berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, diputuskan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan titik awal penanggalan Islam. Hijrah dipilih karena menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga awal terbentuknya masyarakat Islam yang mandiri, berdaulat, dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Lalu mengapa Muharram yang dipilih sebagai bulan pertama? Para ulama menjelaskan bahwa meskipun hijrah Nabi SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal, tekad dan persiapan hijrah sebenarnya telah dimulai setelah peristiwa Baiat Aqabah yang berlangsung pada bulan Dzulhijjah. Setelah musim haji berakhir, Muharram menjadi bulan pertama yang menandai dimulainya fase baru bagi umat Islam. Karena itulah para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah. Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Pada bulan ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, memperbanyak istighfar, bersedekah, berpuasa sunnah, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya. Tahun Baru Hijriah bukanlah perayaan yang identik dengan kemeriahan semata. Lebih dari itu, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, setiap Muslim juga diajak untuk berhijrah dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia, dari kemalasan menuju produktivitas, serta dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah SWT. Makna hijrah yang sesungguhnya adalah perubahan menuju kebaikan. Oleh karena itu, pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi momentum memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama. Semoga datangnya Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan amal saleh demi meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
ARTIKEL08/06/2026 | Helmi Anshari
Hari Jumat, Momentum Memperbanyak Amal dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Hari Jumat, Momentum Memperbanyak Amal dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Hari Jumat memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai penghulu segala hari (sayyidul ayyam). Pada hari yang penuh berkah ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, doa, zikir, membaca Al-Qur'an, serta berbagai amalan kebaikan lainnya. Keutamaan hari Jumat tidak hanya terletak pada kewajiban melaksanakan Salat Jumat bagi laki-laki Muslim, tetapi juga karena banyaknya keberkahan yang Allah SWT limpahkan pada hari tersebut. Rasulullah SAW bersabda bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang apabila seorang hamba berdoa kepada Allah dan memohon kebaikan, maka doanya akan dikabulkan. Hari Jumat juga menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga melalui kepedulian terhadap orang lain. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah pada hari Jumat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Sedekah Jumat bukan hanya tentang memberikan harta, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Senyum yang tulus, membantu tetangga, meringankan beban orang yang kesulitan, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan merupakan bentuk-bentuk sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT. Selain itu, hari Jumat menjadi waktu yang baik untuk melakukan introspeksi diri. Kesibukan dunia yang sering kali menyita perhatian hendaknya tidak membuat seseorang lupa untuk mengevaluasi amal dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia. Dalam kehidupan bermasyarakat, semangat Jumat dapat menjadi pengingat bahwa keberkahan tidak hanya diperoleh dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Semakin banyak kebaikan yang ditebarkan, semakin besar pula keberkahan yang akan dirasakan. Mari jadikan hari Jumat sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Semoga setiap langkah kebaikan yang dilakukan di hari yang mulia ini menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih berkah, baik di dunia maupun di akhirat. Jum'at Mubarak.v
ARTIKEL05/06/2026 | Helmi Anshari
Setelah Kurban, Kebaikan Jangan Ikut Berakhir
Setelah Kurban, Kebaikan Jangan Ikut Berakhir
Hari Raya Idul Adha telah berlalu, namun nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian yang diajarkan dalam momentum tersebut hendaknya terus hidup dalam keseharian kita. Semangat berbagi kepada sesama tidak berhenti setelah pembagian daging kurban selesai, melainkan terus dilanjutkan melalui berbagai bentuk kepedulian sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat. Melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga tanggap bencana, BAZNAS terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Karena di balik setiap bantuan yang tersalurkan, terdapat harapan yang tumbuh, semangat yang kembali bangkit, dan kehidupan yang perlahan menjadi lebih baik. Setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan memiliki arti besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Bantuan yang diberikan bukan hanya tentang nilai materi, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian agar saudara-saudara kita tidak merasa berjuang sendirian. Momentum pasca Idul Adha menjadi pengingat bahwa berbagi tidak mengenal musim dan kepedulian tidak memiliki batas waktu. Kebaikan yang terus dilakukan secara istiqamah akan menjadi jalan keberkahan, baik bagi penerima manfaat maupun bagi mereka yang menunaikannya. Mari lanjutkan kebaikan, perkuat kepedulian, dan tebarkan manfaat lebih luas.
ARTIKEL03/06/2026 | Humas
Khutbah Iduladha 1447 H, Ketua BAZNAS Kalbar Tekankan Pentingnya Berbagi
Khutbah Iduladha 1447 H, Ketua BAZNAS Kalbar Tekankan Pentingnya Berbagi
Iduladha dan Makna Spiritualitas Sosial dalam Kehidupan Hari Raya Iduladha bukan hanya menjadi momentum ibadah kurban semata, tetapi juga pengingat penting tentang makna kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Di balik syariat penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai besar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan semangat berbagi kepada sesama. Dalam khutbah Iduladha 1447 Hijriah yang disampaikan Ketua BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Hamzah Tawil, M.Si, disampaikan bahwa tingkat spiritualitas seseorang sejatinya dapat dilihat dari bagaimana ia hidup berdampingan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT melalui ibadah seperti salat, puasa, dan zikir, tetapi juga menanamkan pentingnya ibadah sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan kurban. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk saling membutuhkan dan saling membantu. Rezeki yang dimiliki seseorang bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan terdapat hak orang lain di dalamnya. Oleh sebab itu, berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Momentum Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu tentang materi yang besar, tetapi tentang ketulusan hati untuk membantu sesama. Ketika seseorang mampu berbagi, maka sesungguhnya ia sedang menanam keberkahan dalam hidupnya sendiri. Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan, nilai-nilai sosial dalam Islam menjadi sangat penting untuk terus dihidupkan. Kepedulian terhadap tetangga, membantu masyarakat yang kesulitan, hingga mendukung program sosial dan kemanusiaan merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Semangat kurban juga menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan kembali dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih sifat egois, memperkuat empati, dan menumbuhkan semangat berbagi demi terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih peduli dan harmonis.
ARTIKEL27/05/2026 | Helmi Anshari
Iduladha, Momentum Pengorbanan dan Kepedulian Sesama
Iduladha, Momentum Pengorbanan dan Kepedulian Sesama
Hari Raya Iduladha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang penuh dengan makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Iduladha dengan melaksanakan salat Id dan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Peristiwa Iduladha tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya yang sangat dicintainya, beliau menjalankan perintah tersebut dengan penuh keikhlasan. Begitu pula Nabi Ismail AS yang dengan tulus menerima ketetapan Allah SWT. Namun, atas rahmat-Nya, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban. Kisah tersebut menjadi pelajaran besar bagi umat Islam tentang arti ketundukan kepada Allah SWT, keikhlasan dalam berkorban, serta pentingnya mendahulukan perintah-Nya di atas kepentingan duniawi. Melalui ibadah kurban, Iduladha juga mengajarkan nilai kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi juga harus dibagikan kepada sesama. Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, Iduladha mengajak umat Islam untuk kembali menumbuhkan rasa empati, mempererat silaturahmi, dan membangun semangat gotong royong dalam masyarakat. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois, keserakahan, dan keinginan yang berlebihan dalam diri manusia. Semangat Iduladha juga menjadi pengingat bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas akan menghadirkan keberkahan. Sekecil apa pun kebaikan yang diberikan kepada sesama, akan menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT. Semoga Hari Raya Iduladha menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama, sehingga keberkahan dan kebahagiaan dapat
ARTIKEL26/05/2026 | Helmi Anshari
Haji, Perjalanan Suci Menjemput Ampunan Ilahi
Haji, Perjalanan Suci Menjemput Ampunan Ilahi
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi umat Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan. Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah untuk memenuhi panggilan Allah SWT dalam menunaikan ibadah haji. Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Ka’bah, tetapi juga perjalanan spiritual untuk membersihkan hati, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram yang sederhana tanpa membedakan jabatan, kekayaan, maupun status sosial. Hal ini mengajarkan tentang kesetaraan, persaudaraan, dan ketundukan manusia di hadapan Sang Pencipta. Rangkaian ibadah haji mengandung banyak makna dan pelajaran kehidupan. Tawaf mengajarkan bahwa Allah menjadi pusat kehidupan seorang Muslim. Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menggambarkan perjuangan dan ikhtiar tanpa menyerah, sebagaimana yang dicontohkan Siti Hajar. Wukuf di Arafah menjadi momentum refleksi diri dan memohon ampunan atas segala dosa, sedangkan lempar jumrah mengajarkan umat Islam untuk melawan hawa nafsu dan godaan setan. Lebih dari itu, ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam dunia. Perbedaan bahasa, budaya, warna kulit, dan negara melebur dalam satu tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Dari sana lahir semangat ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial terhadap sesama. Sepulang dari Tanah Suci, seorang haji diharapkan membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Gelar haji bukan hanya penghormatan, tetapi amanah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Semoga setiap langkah para tamu Allah dimudahkan, diberikan kesehatan, serta memperoleh haji yang mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan dalam kehidupan.
ARTIKEL25/05/2026 | Helmi Anshari
Menjadikan Ibadah Haji sebagai Perjalanan Perubahan Diri
Menjadikan Ibadah Haji sebagai Perjalanan Perubahan Diri
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi merupakan perjalanan spiritual yang mengajarkan tentang keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Setiap tahunnya, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah dengan tujuan yang sama, yaitu memenuhi panggilan Allah dan menyempurnakan rukun Islam. Haji menjadi simbol persatuan umat Islam tanpa memandang suku, jabatan, maupun status sosial. Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai tanda bahwa di hadapan Allah SWT seluruh manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Dalam setiap rangkaian ibadah haji terdapat pelajaran kehidupan yang sangat mendalam. Saat thawaf mengelilingi Ka’bah, umat Islam diingatkan bahwa hidup harus selalu berpusat kepada Allah SWT. Ketika wukuf di Arafah, manusia diajak merenungi dosa dan kesalahan serta memohon ampunan dengan penuh harap. Sedangkan sa’i mengajarkan tentang usaha dan ikhtiar sebagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Nabi Ismail AS. Ibadah haji juga melatih kesabaran dan kepedulian sosial. Di tengah jutaan jamaah, seseorang belajar untuk saling membantu, menghormati, serta menjaga sikap dan ucapan. Nilai-nilai inilah yang seharusnya dibawa pulang setelah menunaikan ibadah haji. Predikat haji mabrur bukan hanya terlihat dari gelar atau pakaian yang dikenakan setelah pulang dari Tanah Suci, tetapi tercermin dari perubahan akhlak dan perilaku sehari-hari. Semakin peduli kepada sesama, semakin rajin beribadah, serta semakin jujur dan amanah dalam kehidupan. Bagi umat Islam yang belum memiliki kesempatan berhaji, jangan pernah berhenti berdoa dan berikhtiar. Karena panggilan haji bukan semata soal kemampuan materi, tetapi juga tentang kehendak dan panggilan dari Allah SWT. Semoga seluruh jamaah haji diberikan kesehatan, kelancaran, serta menjadi haji yang mabrur dan mabruroh. Dan bagi yang belum berangkat, semoga Allah SWT memudahkan langkah menuju Baitullah di waktu yang terbaik.
ARTIKEL22/05/2026 | Helmi Anshari
Ibadah Haji: Perjalanan Spiritual Menyempurnakan Rukun Islam
Ibadah Haji: Perjalanan Spiritual Menyempurnakan Rukun Islam
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi umat Islam yang mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah yang penuh makna spiritual dan kebersamaan ini. Haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian ibadah haji mengandung nilai kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan ketundukan kepada Sang Pencipta. Mulai dari thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, hingga melempar jumrah, semuanya mengajarkan umat Islam tentang makna kehidupan dan ketaatan. Salah satu momen paling penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Pada saat itu, seluruh jamaah berkumpul dengan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan jabatan, suku, maupun status sosial. Hal ini menggambarkan persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT. Semua datang dengan tujuan yang sama, yaitu memohon ampunan dan ridha-Nya. Selain sebagai ibadah spiritual, haji juga memperkuat ukhuwah Islamiyah. Umat Islam dari berbagai negara saling bertemu, berinteraksi, dan merasakan kebersamaan sebagai satu umat. Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan menghormati. Ibadah haji juga menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Pakaian ihram yang sederhana melambangkan kesederhanaan manusia ketika menghadap Allah SWT. Karena itu, sepulang dari Tanah Suci, diharapkan setiap jamaah mampu membawa perubahan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun akhlak sosial. Melalui ibadah haji, umat Islam diajak untuk memperkuat keimanan, memperbanyak rasa syukur, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Haji bukan hanya tentang perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT.
ARTIKEL19/05/2026 | Helmi Anshari
Semangat Berbagi di Hari Raya Iduladha
Semangat Berbagi di Hari Raya Iduladha
Kurban dan Kepedulian terhadap Sesama Iduladha bukan hanya menjadi perayaan hari besar umat Islam, tetapi juga momentum untuk memperkuat rasa kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk kepedulian tersebut diwujudkan melalui ibadah kurban, di mana umat Islam menyisihkan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban dan membagikannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Di banyak daerah, daging kurban menjadi makanan yang sangat dinantikan oleh masyarakat kurang mampu. Tidak sedikit keluarga yang hanya dapat menikmati daging saat Hari Raya Iduladha tiba. Karena itu, kurban memiliki makna sosial yang sangat besar dalam membantu masyarakat dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Kurban juga mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki bukan hanya untuk diri sendiri. Di dalam setiap harta terdapat hak orang lain yang perlu diperhatikan. Dengan berbagi melalui kurban, umat Islam diajak untuk menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan semangat gotong royong. Selain membantu masyarakat secara langsung, ibadah kurban mampu mempererat hubungan antarwarga. Proses penyembelihan, pengemasan, hingga pendistribusian daging dilakukan bersama-sama dengan semangat kebersamaan. Hal ini menjadi cerminan bahwa Islam mengajarkan nilai persatuan dan saling membantu. Melalui ibadah kurban, umat Islam tidak hanya mendapatkan pahala ibadah, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Semangat berbagi inilah yang menjadikan Iduladha sebagai momentum untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
ARTIKEL18/05/2026 | Helmi Anshari
Kurban, Wujud Syukur dan Kepedulian kepada Sesama
Kurban, Wujud Syukur dan Kepedulian kepada Sesama
Hari Raya Iduladha menjadi momentum istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari yang penuh keberkahan ini, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan ternak seperti sapi, kambing, atau domba. Lebih dari itu, kurban mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh ketaatan bersedia menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar bahwa cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segalanya. Di tengah kehidupan masyarakat saat ini, semangat kurban memiliki makna sosial yang sangat besar. Daging kurban yang dibagikan mampu menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang jarang menikmati makanan bergizi seperti daging. Kurban juga mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. Dengan berbagi, tercipta rasa persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan di tengah masyarakat. Selain itu, ibadah kurban menjadi sarana membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya untuk berkurban, maka ia sedang melatih diri untuk lebih ikhlas dan peduli terhadap keadaan sekitar. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.” Ayat tersebut mengingatkan bahwa inti dari kurban adalah ketakwaan dan keikhlasan hati dalam menjalankan perintah Allah SWT. Melalui momentum Iduladha, umat Islam diharapkan tidak hanya semangat berkurban saat hari raya saja, tetapi juga terus menanamkan nilai berbagi dan membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari. Sebab sejatinya, keberkahan hidup tumbuh dari kepedulian terhadap orang lain.
ARTIKEL11/05/2026 | Helmi Anshari
Kurban: Belajar Melepaskan untuk Mendapatkan Keberkahan
Kurban: Belajar Melepaskan untuk Mendapatkan Keberkahan
Setiap datangnya Iduladha, umat Islam diingatkan pada satu ibadah yang penuh makna, yaitu kurban. Di balik prosesi penyembelihan hewan, tersimpan pelajaran besar tentang kehidupan: bagaimana manusia belajar melepaskan sesuatu yang dicintai demi ketaatan kepada Allah SWT. Kurban bukan hanya tentang mampu atau tidaknya seseorang membeli hewan terbaik. Lebih dari itu, kurban adalah tentang kesiapan hati untuk berbagi dan berkorban. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terikat dengan harta, kenyamanan, dan kepentingan pribadi. Melalui kurban, kita dilatih untuk mengurangi keterikatan tersebut. Makna Pengorbanan yang Sesungguhnya Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa pengorbanan sejati bukan sekadar kehilangan, melainkan bentuk kepercayaan penuh kepada Allah. Ketika seseorang berani mengorbankan apa yang ia miliki, di situlah letak keimanan diuji. Nilai ini relevan hingga saat ini. Tidak semua pengorbanan berbentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, bahkan kepedulian kepada sesama. Kurban dan Kepedulian Sosial Di sisi lain, kurban menjadi jembatan kebahagiaan bagi mereka yang jarang merasakan kecukupan. Daging kurban yang dibagikan menjadi simbol bahwa dalam Islam, kesejahteraan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga harus dirasakan bersama. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali, yaitu saat Iduladha. Dari sini, kurban menjadi sarana nyata untuk menghadirkan senyum dan harapan. Membangun Kepekaan di Tengah Kesibukan Di era modern yang serba cepat, manusia sering lupa untuk berhenti sejenak dan melihat sekitar. Kurban hadir sebagai pengingat bahwa di balik kesibukan, ada tanggung jawab sosial yang tidak boleh diabaikan. Ibadah ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya datang dari apa yang kita kumpulkan, tetapi juga dari apa yang kita berikan. Kurban sebagai Investasi Akhirat Apa yang dikurbankan di dunia sejatinya bukanlah kehilangan, melainkan investasi. Setiap tetes darah hewan kurban menjadi saksi atas keikhlasan seorang hamba. Allah SWT menilai niat dan ketakwaan, bukan semata besar kecilnya hewan yang disembelih. Dengan demikian, kurban menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama manusia.
ARTIKEL06/05/2026 | Helmi Anshari
Kurban: Ibadah yang Menghidupkan Kepedulian Sosial Umat
Kurban: Ibadah yang Menghidupkan Kepedulian Sosial Umat
Hari Raya Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan memperkuat solidaritas umat. Ibadah kurban mengandung nilai spiritual sekaligus sosial yang sangat dalam, karena di dalamnya terdapat perintah untuk berbagi dan membantu sesama. Makna Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata qarraba yang berarti mendekatkan diri. Dalam konteks syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak pada hari Idul Adha dan hari tasyrik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Perintah berkurban telah dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menunjukkan bahwa kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Kurban Bukan Sekadar Ritual Seringkali kurban dipahami hanya sebagai rutinitas tahunan. Padahal, kurban mengajarkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Allah SWT berfirman: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban bukan pada fisik hewan, melainkan pada niat dan ketakwaan orang yang melaksanakannya. Dimensi Sosial Ibadah Kurban Salah satu keistimewaan kurban adalah dampaknya yang langsung dirasakan masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan. Daging kurban didistribusikan kepada fakir miskin, sehingga mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan yang dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).” (HR. Tirmidzi) Selain itu, kurban juga menjadi sarana pemerataan pangan, mempererat hubungan sosial, dan mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat. Kurban Sebagai Wujud Kepedulian Nyata Melalui kurban, umat Islam diajak untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap kondisi sekitar. Bagi sebagian masyarakat, daging merupakan makanan yang jarang dikonsumsi. Oleh karena itu, kurban menjadi momen istimewa yang membawa kebahagiaan bagi mereka. Lebih dari itu, kurban juga melatih keikhlasan dalam berbagi dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Peran Lembaga dalam Pengelolaan Kurban Di era modern, pengelolaan kurban semakin berkembang dengan melibatkan lembaga resmi seperti BAZNAS. Hal ini bertujuan agar distribusi kurban lebih merata, tepat sasaran, dan menjangkau daerah-daerah yang membutuhkan. Dengan pengelolaan yang baik, kurban tidak hanya menjadi ibadah tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi umat.
ARTIKEL28/04/2026 | Helmi Anshari
Menggali Hikmah Kurban: Dari Ketakwaan hingga Kepedulian Sosial
Menggali Hikmah Kurban: Dari Ketakwaan hingga Kepedulian Sosial
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan utama yang dilaksanakan umat Islam pada Hari Raya Idul Adha. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban mengandung berbagai hikmah yang menyentuh aspek spiritual, sosial, hingga kemanusiaan. Allah SWT berfirman: "Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi utama dari ibadah kurban adalah ketakwaan, bukan sekadar ritual fisik semata. 1. Meningkatkan Ketakwaan kepada Allah SWT Hikmah utama dari ibadah kurban adalah melatih keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT. Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Allah. Dari peristiwa tersebut, umat Islam diajarkan untuk menempatkan perintah Allah di atas segala-galanya. 2. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Kurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat, khususnya fakir miskin, sehingga mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha. Hal ini mempererat hubungan antar sesama dan menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang membutuhkan. 3. Melatih Keikhlasan dan Pengorbanan Berkurban mengajarkan bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang harus dikorbankan demi kebaikan yang lebih besar. Tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, dan kepentingan pribadi. Dengan berkurban, seorang muslim dilatih untuk ikhlas dalam memberi tanpa mengharapkan balasan. 4. Menghapus Sifat Cinta Dunia Berlebihan Ibadah kurban juga menjadi sarana untuk mengurangi kecintaan berlebihan terhadap harta. Dengan mengeluarkan sebagian rezeki untuk berkurban, seseorang belajar bahwa harta hanyalah titipan yang harus dimanfaatkan di jalan kebaikan. 5. Menguatkan Persatuan dan Ukhuwah Momentum Idul Adha menghadirkan kebersamaan di tengah masyarakat, mulai dari proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta membangun solidaritas sosial. 6. Menjadi Sarana Pemerataan Gizi Bagi sebagian masyarakat, daging merupakan makanan yang jarang dikonsumsi. Melalui kurban, mereka dapat memperoleh asupan protein yang bermanfaat bagi kesehatan. Hal ini menjadikan kurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
ARTIKEL27/04/2026 | Helmi Anshari
Hukum Berkurban: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasannya dalam Islam
Hukum Berkurban: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasannya dalam Islam
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, khususnya saat Hari Raya Idul Adha. Namun, masih banyak yang bertanya, apakah berkurban itu wajib atau hanya sunnah? Untuk memahami hal ini, penting bagi kita merujuk pada dalil Al-Qur’an, hadits, serta pendapat para ulama. Perintah Berkurban dalam Islam Allah SWT berfirman: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: "Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta), namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ibnu Majah) Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah kurban bagi umat Islam yang mampu. Perbedaan Pendapat Ulama Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum berkurban, yaitu: 1. Pendapat Sunnah Muakkadah (Sangat Dianjurkan) Mayoritas ulama, termasuk dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Artinya, ibadah ini tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi setiap muslim yang mampu. Meninggalkannya tidak berdosa, namun kehilangan keutamaan yang besar. 2. Pendapat Wajib Sebagian ulama, seperti dari mazhab Hanafi, berpendapat bahwa berkurban hukumnya wajib bagi muslim yang mampu, yaitu yang memiliki kelebihan harta. Pendapat ini didasarkan pada perintah dalam Al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan penekanan kuat terhadap pelaksanaan kurban. Siapa yang Dianjurkan Berkurban? Secara umum, ibadah kurban dianjurkan bagi muslim yang: Mampu secara finansial Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi Tidak dalam kondisi kesulitan ekonomi Hikmah Berkurban Terlepas dari perbedaan hukum, ibadah kurban memiliki banyak hikmah, di antaranya: Mendekatkan diri kepada Allah SWT Meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS Meningkatkan kepedulian sosial Membantu masyarakat yang membutuhkan Kesimpulan Hukum berkurban dalam Islam diperselisihkan oleh para ulama, antara wajib dan sunnah muakkadah. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa kurban adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi yang mampu. Oleh karena itu, bagi umat Islam yang memiliki kelapangan rezeki, sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian terhadap sesama. Mari tunaikan ibadah kurban dengan penuh keikhlasan, karena setiap tetes darah yang mengalir akan menjadi saksi ketaatan kita kepada Allah SWT.
ARTIKEL24/04/2026 | Helmi Anshari
Bolehkah Qurban Online atau Transfer? Apakah Sah Menurut Islam?
Bolehkah Qurban Online atau Transfer? Apakah Sah Menurut Islam?
Di era digital seperti sekarang, kemudahan bertransaksi membuat ibadah kurban juga bisa dilakukan secara online atau melalui transfer. Banyak lembaga, termasuk BAZNAS, menyediakan layanan kurban digital yang memudahkan masyarakat dalam menunaikan ibadah tanpa harus datang langsung ke lokasi penyembelihan. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah qurban online atau transfer itu sah menurut syariat Islam? Hukum Qurban Online dalam Islam Pada dasarnya, qurban online hukumnya sah selama memenuhi rukun dan syarat kurban sesuai syariat Islam. Dalam praktiknya, qurban online menggunakan sistem wakalah (perwakilan), yaitu seseorang mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya kepada pihak lain. Dalam Islam, wakalah diperbolehkan. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa seseorang boleh mewakilkan urusan tertentu kepada pihak lain selama dilakukan dengan jelas dan amanah. Dalil Kebolehan Wakalah dalam Ibadah Konsep wakalah memiliki dasar dalam syariat, salah satunya dari hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW, di mana beliau pernah mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada sahabatnya. Hal ini menunjukkan bahwa: Penyembelihan tidak harus dilakukan sendiri Boleh diwakilkan kepada pihak yang terpercaya Yang terpenting adalah niat dan pelaksanaannya sesuai syariat Syarat Qurban Online Agar Sah Agar qurban online atau transfer dinyatakan sah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Niat Berqurban Pekurban harus memiliki niat yang jelas untuk beribadah kepada Allah SWT. 2. Melalui Lembaga atau Pihak Terpercaya Pastikan lembaga yang dipilih amanah, transparan, dan memiliki sistem pengelolaan yang jelas, seperti BAZNAS. 3. Hewan Memenuhi Syarat Syariat Hewan harus: Sehat Tidak cacat Cukup umur Termasuk hewan ternak yang diperbolehkan 4. Penyembelihan Sesuai Syariat Proses penyembelihan harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu setelah salat Idul Adha hingga hari tasyrik. 5. Distribusi Tepat Sasaran Daging kurban disalurkan kepada yang berhak, terutama fakir dan miskin. Keunggulan Qurban Online Selain sah secara syariat, qurban online juga memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: Praktis dan mudah tanpa harus datang langsung Menjangkau daerah terpencil yang membutuhkan Distribusi lebih merata Dikelola secara profesional oleh lembaga resmi Peran Lembaga dalam Qurban Digital Lembaga seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat berperan penting dalam memastikan: Hewan kurban sesuai standar Proses penyembelihan sesuai syariat Penyaluran tepat sasaran Laporan transparan kepada pekurban Dengan demikian, masyarakat dapat berkurban dengan tenang dan penuh keikhlasan. Kesimpulan Qurban online atau melalui transfer diperbolehkan dan sah dalam Islam, selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Sistem wakalah menjadi dasar utama dalam praktik ini, sehingga ibadah tetap bernilai meskipun dilakukan tanpa kehadiran langsung. Di era digital ini, qurban tidak hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga sarana untuk memperluas manfaat dan menjangkau lebih banyak saudara yang membutuhkan.
ARTIKEL22/04/2026 | Helmi Anshari
Tidak Hadir Saat Kurban Disembelih, Apakah Kurban Tetap Sah dan Berpahala? Ini Penjelasan Ulama
Tidak Hadir Saat Kurban Disembelih, Apakah Kurban Tetap Sah dan Berpahala? Ini Penjelasan Ulama
Kurban adalah salah satu ibadah yang dilakukan secara rutin oleh umat Islam secara kolektif setiap satu tahun. Karena dilakukan secara bersama-sama di seluruh dunia, maka ibadah kurban menjadi salah satu syi'ar agama Islam. Secara hukum fiqih, kurban bagi umat Islam hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) bagi setiap muslim yang memiliki harta lebih dari kebutuhannya beserta keluarga selama hari raya Idul Adha dan hari tasyriq. Sedangkan bagi Rasulullah saw, kurban hukumnya wajib. (Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyatul Bajuri, [Jeddah, Darul Minhaj: 2016], juz IV, halaman 360). Allah swt memerintahkan Rasulullah saw untuk mengikuti ajaran datuknya, yakni Nabi Ibrahim as. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat An-Nahl ayat 123: ????? ???????????? ???????? ???? ???????? ??????? ???????????? ???????? ? ????? ????? ???? ??????????????Artinya, "Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif' dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah". Meski mayoritas ahli tafsir mengatakan yang dimaksud agama Ibrahim as adalah tauhidnya, yakni tidak menyekutukan Allah swt, namun ada beberapa ulama yang berpendapat lain sebagaimana dikutip Imam Al-Baghawi: ???? ??? ?????? : ??? ????? ??? ???? ???? ???? ?????? ?????? ??????? ??? ?? ??? ?? ?????? ? ??? ?? ???? ??? ???? ?? Artinya, "Para ulama ushul berpendapat bahwa Rasulullah saw diperintahkan mengikuti syariat Nabi Ibrahim as, kecuali bagian yang di-naskh (diganti), syariat Ibrahim as yang tidak di-naskh, menjadi syariat Rasulullah saw juga." (Tafsirul Baghawi, [Beirut, Dar Ihya'it Turatsil 'Arabi: 2000], juz III, halaman 102). Pendapat ini menemukan relevansinya ketika kita melihat bahwa beberapa syariat Islam tampak identik dengan syariat Nabi Ibrahim as, seperti khitan, meramaikan Ka'bah, dan kurban.Dahulu kala Nabi Ibrahim as diperintahkan menyembelih putranya. Saat akan melakukannya, Allah swt memerintahkan agar Ibrahim as menyembelih kambing sebagai gantinya. Kisah ini kemudian menjadi bahan renungan ('ibrah) bagi setiap Muslim, khususnya bagi yang melaksanakan kurban. Betapa Ibrahim as sangat teguh memegang imannya dan menempatkan Allah swt sebagai prioritas utama, mengalahkan apapun yang sangat ia cintai, termasuk seorang anak. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Anas ra, beliau menceritakan bagaimana Rasulullah saw menyembelih kurbannya: ?????? ?????????? ??? ???? ???? ???? ???????????? ???????????? ???????????? ???????? ???????? ????? ???????????? ???????? ???????????? ????????????? ??????? Artinya, "Rasulullah menyembelih dua kambing berwarna putih, aku melihatnya meletakkan telapak kaki di atas bagian samping leher kedua kambing tersebut. Beliau menyebut nama Allah, membaca takbir, kemudian menyembelih." (HR Al-Bukhari). Berdasarkan hadits ulama menyimpulkan, orang yang berkurban apabila laki-laki, maka sunnah menyembelih kurbannya sendiri. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa melaksanakan kesunahan seperti itu. Karena menyembelih hewan, apalagi kambing, sapi, dan unta, adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya menjelaskan: ???? ?????? ?? ????? ?? ????? ? ??? ?? ???????? ??????: ??????? ????? ?? ?? ???? ?????. ???? ??? ??? ?? ????? ?? ?????? ? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ?????? ???? ????: ???? ??? ?????? ???????? ???? ???? ???? ?? ???? ???? ?? ?? ??? ?? ?????. ???? ?????? ???? ?????? Artinya, "Perempuan, khuntsa, dan laki-laki yang tidak bisa menyembelih sunnah mewakilkan kepada orang lain untuk menyembelih, sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Majmu' karya An-Nawawi. Bagi orang yang mewakilkan penyembelihan sebagaimana disebutkan sebelumnya, sunnah menyaksikan penyembelihan kurbannya. Karena Rasulullah saw memerintahkan pada Fathimah ra: "Bangun dan saksikanlah penyembelihan kurbanmu, sesungguhnya dengan tetesan pertama darah kurban tersebut, dosa-dosamu yang telah lalu akan diampuni." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, dan sanadnya dinilai shahih". (Al-Bajuri, IV/361). Berdasarkan penjelasan Al-Bajuri, orang yang tidak menyembelih kurbannya sendiri dianjurkan untuk menyaksikan penyembelihannya. Ketentuan ini berdasarkan sabda Rasulullah saw pada putrinya, Fathimah ra. Namun, Tetap saja tidak semua orang dapat menyaksikan penyembelihan kurbannya. Sebabnya beragam. Ada yang karena tidak tega atau takut melihat darah, ada yang karena tempatnya jauh, misalnya ia berkurban di luar kota tempat tinggalnya, ada juga yang tidak bisa hadir karena ada suatu hal yang tak bisa ditinggal, atau penyebab lain. Lalu bagaimana keabsahan ibadah kurbannya? Dari penjelasan Al-Bajuri di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak menghadiri penyembelihan kurbannya, ibadah kurbannya tetap sah dan pahala kurbannya tetap utuh, karena menyaksikan penyembelihan kurban adalah sebuah anjuran, bukan kewajiban. Wallahu a'lam.
ARTIKEL21/04/2026 | Helmi Anshari
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Kalimantan Barat.

Lihat Daftar Rekening →