WhatsApp Icon
1 Muharram Adalah Hari Penting: Makna dan Sejarahnya

Dalam agama Islam, Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang istimewa karena terdapat makna dan sejarah di dalamnya. Salah satu bukti bahwa Muharram merupakan bulan istimewa karena merupakan awal tahun baru hijriah dan 1 Muharram Adalah Hari Penting

Dalam sejarahnya, bulan Muharram merupakan salah satu diantara bulan-bulan yang mulia yang termasuk al-asyhur al-hurum atau bulan yang diharamkan untuk berperang.

Bahkan Rasulullah SAW memandang bulan Muharram sebagai bulan yang utama setelah bulan Ramadhan. Karena kemulian tersebut, maka umat Islam disunnahkan untuk berpuasa pada hari Asyura, atau menurut pendapat para ulama pada tanggal 10 Muharram.

Selain itu, bulan Muharram memiliki keutamaan karena dipilih oleh Allah SWT sebagai momen pengampunan umat Islam dari dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat.    

Terlebih lagi pada bulan Muharram memiliki keistimewaan karena menjadi awal tahun dalam kalender hijriah. Maka dari itu, umat Islam hendaknya mengetahui sejarah tahun baru Hijriah, yakni sejarah penanggalan atau penetapan kalender Islam yang diawali dengan 1 Muharram.

Dikutip dari laman NU Online, Muharam merupakan bulan pertama yang dipakai di kalender umat Islam. Kalender ini disebut juga dengan penanggalan Qomariyah atau Hijriyah.

Apabila diambil dari riwayat para ulama pakar tarikh yang terkemuka, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriyah.

Ditinjau kisahnya, hal ini terjadi dikarenakan pada suatu hari, Umar menerima sepucuk surat dari sahabatnya yang bernama Abu Musa Al-Asyari RA. Namun surat tersebut tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya.

Kondisi ini tentu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu yang harus diurusnya. Karena ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru.

Dengan demikian, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.

Singkatnya, musyawarah yang diselenggrakan Umar bersama para sahabatnya tadi telah menghasilkan beberapa pilihan tahun bersejarah untuk dijadikan sebagai patokan memulai tarikh Islam tersebut. Diantaranya, tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah.

Dadi beberapa pilihan tersebut, akhirnya ditetapkanlah bahwa tarikh Islam dimulai dari hari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah menuju Madinah menjadi awal tarikh Islam, yaitu awal tahun Hijriyah. Ketetapan ini sesuai dengan usulan Ali bin Thalib.

Itulah penjelasan singkat mengenai 1 Muharram Adalah Hari Penting dalam ajaran Islam. Semoga bermanfaat.

09/06/2026 | Kontributor: Helmi Anshari
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?

Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia memperingati datangnya Tahun Baru Hijriah. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, padahal peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tidak terjadi tepat pada bulan Muharram?

Penetapan kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, wilayah Islam semakin luas dan kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku menjadi sangat penting untuk administrasi pemerintahan, surat-menyurat, serta berbagai urusan sosial kemasyarakatan.

Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, diputuskan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan titik awal penanggalan Islam. Hijrah dipilih karena menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga awal terbentuknya masyarakat Islam yang mandiri, berdaulat, dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Lalu mengapa Muharram yang dipilih sebagai bulan pertama?

Para ulama menjelaskan bahwa meskipun hijrah Nabi SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal, tekad dan persiapan hijrah sebenarnya telah dimulai setelah peristiwa Baiat Aqabah yang berlangsung pada bulan Dzulhijjah. Setelah musim haji berakhir, Muharram menjadi bulan pertama yang menandai dimulainya fase baru bagi umat Islam. Karena itulah para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah.

Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Pada bulan ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, memperbanyak istighfar, bersedekah, berpuasa sunnah, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya.

Tahun Baru Hijriah bukanlah perayaan yang identik dengan kemeriahan semata. Lebih dari itu, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, setiap Muslim juga diajak untuk berhijrah dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia, dari kemalasan menuju produktivitas, serta dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah SWT.

Makna hijrah yang sesungguhnya adalah perubahan menuju kebaikan. Oleh karena itu, pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi momentum memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.

Semoga datangnya Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan amal saleh demi meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

08/06/2026 | Kontributor: Helmi Anshari
Hari Jumat, Momentum Memperbanyak Amal dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Hari Jumat memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai penghulu segala hari (sayyidul ayyam). Pada hari yang penuh berkah ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, doa, zikir, membaca Al-Qur'an, serta berbagai amalan kebaikan lainnya.

Keutamaan hari Jumat tidak hanya terletak pada kewajiban melaksanakan Salat Jumat bagi laki-laki Muslim, tetapi juga karena banyaknya keberkahan yang Allah SWT limpahkan pada hari tersebut. Rasulullah SAW bersabda bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang apabila seorang hamba berdoa kepada Allah dan memohon kebaikan, maka doanya akan dikabulkan.

Hari Jumat juga menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga melalui kepedulian terhadap orang lain. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah pada hari Jumat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan.

Sedekah Jumat bukan hanya tentang memberikan harta, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Senyum yang tulus, membantu tetangga, meringankan beban orang yang kesulitan, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan merupakan bentuk-bentuk sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT.

Selain itu, hari Jumat menjadi waktu yang baik untuk melakukan introspeksi diri. Kesibukan dunia yang sering kali menyita perhatian hendaknya tidak membuat seseorang lupa untuk mengevaluasi amal dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, semangat Jumat dapat menjadi pengingat bahwa keberkahan tidak hanya diperoleh dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Semakin banyak kebaikan yang ditebarkan, semakin besar pula keberkahan yang akan dirasakan.

 

Mari jadikan hari Jumat sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Semoga setiap langkah kebaikan yang dilakukan di hari yang mulia ini menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih berkah, baik di dunia maupun di akhirat. Jum'at Mubarak.v

05/06/2026 | Kontributor: Helmi Anshari
Setelah Kurban, Kebaikan Jangan Ikut Berakhir

Hari Raya Idul Adha telah berlalu, namun nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian yang diajarkan dalam momentum tersebut hendaknya terus hidup dalam keseharian kita. Semangat berbagi kepada sesama tidak berhenti setelah pembagian daging kurban selesai, melainkan terus dilanjutkan melalui berbagai bentuk kepedulian sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga tanggap bencana, BAZNAS terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Karena di balik setiap bantuan yang tersalurkan, terdapat harapan yang tumbuh, semangat yang kembali bangkit, dan kehidupan yang perlahan menjadi lebih baik.

Setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan memiliki arti besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Bantuan yang diberikan bukan hanya tentang nilai materi, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian agar saudara-saudara kita tidak merasa berjuang sendirian.

Momentum pasca Idul Adha menjadi pengingat bahwa berbagi tidak mengenal musim dan kepedulian tidak memiliki batas waktu. Kebaikan yang terus dilakukan secara istiqamah akan menjadi jalan keberkahan, baik bagi penerima manfaat maupun bagi mereka yang menunaikannya.

Mari lanjutkan kebaikan, perkuat kepedulian, dan tebarkan manfaat lebih luas.

03/06/2026 | Kontributor: Humas
Khutbah Iduladha 1447 H, Ketua BAZNAS Kalbar Tekankan Pentingnya Berbagi

Iduladha dan Makna Spiritualitas Sosial dalam Kehidupan

Hari Raya Iduladha bukan hanya menjadi momentum ibadah kurban semata, tetapi juga pengingat penting tentang makna kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Di balik syariat penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai besar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan semangat berbagi kepada sesama.

Dalam khutbah Iduladha 1447 Hijriah yang disampaikan Ketua BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Hamzah Tawil, M.Si, disampaikan bahwa tingkat spiritualitas seseorang sejatinya dapat dilihat dari bagaimana ia hidup berdampingan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT melalui ibadah seperti salat, puasa, dan zikir, tetapi juga menanamkan pentingnya ibadah sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan kurban. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk saling membutuhkan dan saling membantu.

Rezeki yang dimiliki seseorang bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan terdapat hak orang lain di dalamnya. Oleh sebab itu, berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Momentum Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu tentang materi yang besar, tetapi tentang ketulusan hati untuk membantu sesama. Ketika seseorang mampu berbagi, maka sesungguhnya ia sedang menanam keberkahan dalam hidupnya sendiri.

Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan, nilai-nilai sosial dalam Islam menjadi sangat penting untuk terus dihidupkan. Kepedulian terhadap tetangga, membantu masyarakat yang kesulitan, hingga mendukung program sosial dan kemanusiaan merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Semangat kurban juga menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan kembali dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, dan kemuliaan di sisi Allah SWT.

Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih sifat egois, memperkuat empati, dan menumbuhkan semangat berbagi demi terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih peduli dan harmonis.

27/05/2026 | Kontributor: Helmi Anshari

Artikel Terbaru

1 Muharram Adalah Hari Penting: Makna dan Sejarahnya
1 Muharram Adalah Hari Penting: Makna dan Sejarahnya
Dalam agama Islam, Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang istimewa karena terdapat makna dan sejarah di dalamnya. Salah satu bukti bahwa Muharram merupakan bulan istimewa karena merupakan awal tahun baru hijriah dan 1 Muharram Adalah Hari PentingDalam sejarahnya, bulan Muharram merupakan salah satu diantara bulan-bulan yang mulia yang termasuk al-asyhur al-hurum atau bulan yang diharamkan untuk berperang.Bahkan Rasulullah SAW memandang bulan Muharram sebagai bulan yang utama setelah bulan Ramadhan. Karena kemulian tersebut, maka umat Islam disunnahkan untuk berpuasa pada hari Asyura, atau menurut pendapat para ulama pada tanggal 10 Muharram.Selain itu, bulan Muharram memiliki keutamaan karena dipilih oleh Allah SWT sebagai momen pengampunan umat Islam dari dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat. Terlebih lagi pada bulan Muharram memiliki keistimewaan karena menjadi awal tahun dalam kalender hijriah. Maka dari itu, umat Islam hendaknya mengetahui sejarah tahun baru Hijriah, yakni sejarah penanggalan atau penetapan kalender Islam yang diawali dengan 1 Muharram.Dikutip dari laman NU Online, Muharam merupakan bulan pertama yang dipakai di kalender umat Islam. Kalender ini disebut juga dengan penanggalan Qomariyah atau Hijriyah.Apabila diambil dari riwayat para ulama pakar tarikh yang terkemuka, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriyah.Ditinjau kisahnya, hal ini terjadi dikarenakan pada suatu hari, Umar menerima sepucuk surat dari sahabatnya yang bernama Abu Musa Al-Asyari RA. Namun surat tersebut tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya.Kondisi ini tentu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu yang harus diurusnya. Karena ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru.Dengan demikian, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.Singkatnya, musyawarah yang diselenggrakan Umar bersama para sahabatnya tadi telah menghasilkan beberapa pilihan tahun bersejarah untuk dijadikan sebagai patokan memulai tarikh Islam tersebut. Diantaranya, tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah.Dadi beberapa pilihan tersebut, akhirnya ditetapkanlah bahwa tarikh Islam dimulai dari hari hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Makkah menuju Madinah menjadi awal tarikh Islam, yaitu awal tahun Hijriyah. Ketetapan ini sesuai dengan usulan Ali bin Thalib.Itulah penjelasan singkat mengenai 1 Muharram Adalah Hari Penting dalam ajaran Islam. Semoga bermanfaat.
ARTIKEL09/06/2026 | Helmi Anshari
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Mengapa Muharram Menjadi Awal Tahun Baru Hijriah?
Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia memperingati datangnya Tahun Baru Hijriah. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, padahal peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tidak terjadi tepat pada bulan Muharram? Penetapan kalender Hijriah bermula pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, wilayah Islam semakin luas dan kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku menjadi sangat penting untuk administrasi pemerintahan, surat-menyurat, serta berbagai urusan sosial kemasyarakatan. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, diputuskan bahwa peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan titik awal penanggalan Islam. Hijrah dipilih karena menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga awal terbentuknya masyarakat Islam yang mandiri, berdaulat, dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Lalu mengapa Muharram yang dipilih sebagai bulan pertama? Para ulama menjelaskan bahwa meskipun hijrah Nabi SAW terjadi pada bulan Rabiul Awal, tekad dan persiapan hijrah sebenarnya telah dimulai setelah peristiwa Baiat Aqabah yang berlangsung pada bulan Dzulhijjah. Setelah musim haji berakhir, Muharram menjadi bulan pertama yang menandai dimulainya fase baru bagi umat Islam. Karena itulah para sahabat sepakat menjadikan Muharram sebagai awal tahun dalam kalender Hijriah. Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan mulia (Asyhurul Hurum) yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Pada bulan ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, memperbanyak istighfar, bersedekah, berpuasa sunnah, dan melakukan berbagai kebaikan lainnya. Tahun Baru Hijriah bukanlah perayaan yang identik dengan kemeriahan semata. Lebih dari itu, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, setiap Muslim juga diajak untuk berhijrah dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia, dari kemalasan menuju produktivitas, serta dari kelalaian menuju ketaatan kepada Allah SWT. Makna hijrah yang sesungguhnya adalah perubahan menuju kebaikan. Oleh karena itu, pergantian tahun Hijriah hendaknya menjadi momentum memperbarui niat, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama. Semoga datangnya Tahun Baru Hijriah menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan amal saleh demi meraih keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
ARTIKEL08/06/2026 | Helmi Anshari
Hari Jumat, Momentum Memperbanyak Amal dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Hari Jumat, Momentum Memperbanyak Amal dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Hari Jumat memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam. Bahkan, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai penghulu segala hari (sayyidul ayyam). Pada hari yang penuh berkah ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, doa, zikir, membaca Al-Qur'an, serta berbagai amalan kebaikan lainnya. Keutamaan hari Jumat tidak hanya terletak pada kewajiban melaksanakan Salat Jumat bagi laki-laki Muslim, tetapi juga karena banyaknya keberkahan yang Allah SWT limpahkan pada hari tersebut. Rasulullah SAW bersabda bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang apabila seorang hamba berdoa kepada Allah dan memohon kebaikan, maka doanya akan dikabulkan. Hari Jumat juga menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat hubungan dengan sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga melalui kepedulian terhadap orang lain. Oleh karena itu, memperbanyak sedekah pada hari Jumat menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan. Sedekah Jumat bukan hanya tentang memberikan harta, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Senyum yang tulus, membantu tetangga, meringankan beban orang yang kesulitan, hingga berbagi makanan kepada yang membutuhkan merupakan bentuk-bentuk sedekah yang bernilai di sisi Allah SWT. Selain itu, hari Jumat menjadi waktu yang baik untuk melakukan introspeksi diri. Kesibukan dunia yang sering kali menyita perhatian hendaknya tidak membuat seseorang lupa untuk mengevaluasi amal dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia. Dalam kehidupan bermasyarakat, semangat Jumat dapat menjadi pengingat bahwa keberkahan tidak hanya diperoleh dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Semakin banyak kebaikan yang ditebarkan, semakin besar pula keberkahan yang akan dirasakan. Mari jadikan hari Jumat sebagai momentum untuk memperbanyak amal saleh, memperkuat silaturahmi, memperbanyak sedekah, serta memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Semoga setiap langkah kebaikan yang dilakukan di hari yang mulia ini menjadi bekal menuju kehidupan yang lebih berkah, baik di dunia maupun di akhirat. Jum'at Mubarak.v
ARTIKEL05/06/2026 | Helmi Anshari
Setelah Kurban, Kebaikan Jangan Ikut Berakhir
Setelah Kurban, Kebaikan Jangan Ikut Berakhir
Hari Raya Idul Adha telah berlalu, namun nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian yang diajarkan dalam momentum tersebut hendaknya terus hidup dalam keseharian kita. Semangat berbagi kepada sesama tidak berhenti setelah pembagian daging kurban selesai, melainkan terus dilanjutkan melalui berbagai bentuk kepedulian sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat. Melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga tanggap bencana, BAZNAS terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Karena di balik setiap bantuan yang tersalurkan, terdapat harapan yang tumbuh, semangat yang kembali bangkit, dan kehidupan yang perlahan menjadi lebih baik. Setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang dititipkan memiliki arti besar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. Bantuan yang diberikan bukan hanya tentang nilai materi, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian agar saudara-saudara kita tidak merasa berjuang sendirian. Momentum pasca Idul Adha menjadi pengingat bahwa berbagi tidak mengenal musim dan kepedulian tidak memiliki batas waktu. Kebaikan yang terus dilakukan secara istiqamah akan menjadi jalan keberkahan, baik bagi penerima manfaat maupun bagi mereka yang menunaikannya. Mari lanjutkan kebaikan, perkuat kepedulian, dan tebarkan manfaat lebih luas.
ARTIKEL03/06/2026 | Humas
Khutbah Iduladha 1447 H, Ketua BAZNAS Kalbar Tekankan Pentingnya Berbagi
Khutbah Iduladha 1447 H, Ketua BAZNAS Kalbar Tekankan Pentingnya Berbagi
Iduladha dan Makna Spiritualitas Sosial dalam Kehidupan Hari Raya Iduladha bukan hanya menjadi momentum ibadah kurban semata, tetapi juga pengingat penting tentang makna kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Di balik syariat penyembelihan hewan kurban, terdapat nilai besar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan semangat berbagi kepada sesama. Dalam khutbah Iduladha 1447 Hijriah yang disampaikan Ketua BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, Dr. H. Hamzah Tawil, M.Si, disampaikan bahwa tingkat spiritualitas seseorang sejatinya dapat dilihat dari bagaimana ia hidup berdampingan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya mengajarkan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT melalui ibadah seperti salat, puasa, dan zikir, tetapi juga menanamkan pentingnya ibadah sosial seperti zakat, infak, sedekah, dan kurban. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk saling membutuhkan dan saling membantu. Rezeki yang dimiliki seseorang bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan terdapat hak orang lain di dalamnya. Oleh sebab itu, berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan menjadi salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Momentum Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan tidak selalu tentang materi yang besar, tetapi tentang ketulusan hati untuk membantu sesama. Ketika seseorang mampu berbagi, maka sesungguhnya ia sedang menanam keberkahan dalam hidupnya sendiri. Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan, nilai-nilai sosial dalam Islam menjadi sangat penting untuk terus dihidupkan. Kepedulian terhadap tetangga, membantu masyarakat yang kesulitan, hingga mendukung program sosial dan kemanusiaan merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Semangat kurban juga menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya fokus pada kepentingan pribadi, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Karena pada akhirnya, setiap kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan kembali dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih sifat egois, memperkuat empati, dan menumbuhkan semangat berbagi demi terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih peduli dan harmonis.
ARTIKEL27/05/2026 | Helmi Anshari
Iduladha, Momentum Pengorbanan dan Kepedulian Sesama
Iduladha, Momentum Pengorbanan dan Kepedulian Sesama
Hari Raya Iduladha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang penuh dengan makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Iduladha dengan melaksanakan salat Id dan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Peristiwa Iduladha tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya yang sangat dicintainya, beliau menjalankan perintah tersebut dengan penuh keikhlasan. Begitu pula Nabi Ismail AS yang dengan tulus menerima ketetapan Allah SWT. Namun, atas rahmat-Nya, Allah menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan kurban. Kisah tersebut menjadi pelajaran besar bagi umat Islam tentang arti ketundukan kepada Allah SWT, keikhlasan dalam berkorban, serta pentingnya mendahulukan perintah-Nya di atas kepentingan duniawi. Melalui ibadah kurban, Iduladha juga mengajarkan nilai kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak hanya dirasakan sendiri, tetapi juga harus dibagikan kepada sesama. Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, Iduladha mengajak umat Islam untuk kembali menumbuhkan rasa empati, mempererat silaturahmi, dan membangun semangat gotong royong dalam masyarakat. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois, keserakahan, dan keinginan yang berlebihan dalam diri manusia. Semangat Iduladha juga menjadi pengingat bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas akan menghadirkan keberkahan. Sekecil apa pun kebaikan yang diberikan kepada sesama, akan menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT. Semoga Hari Raya Iduladha menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama, sehingga keberkahan dan kebahagiaan dapat
ARTIKEL26/05/2026 | Helmi Anshari
Haji, Perjalanan Suci Menjemput Ampunan Ilahi
Haji, Perjalanan Suci Menjemput Ampunan Ilahi
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi umat Muslim yang mampu secara fisik, finansial, dan keamanan perjalanan. Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah untuk memenuhi panggilan Allah SWT dalam menunaikan ibadah haji. Haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Ka’bah, tetapi juga perjalanan spiritual untuk membersihkan hati, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, seluruh jamaah mengenakan pakaian ihram yang sederhana tanpa membedakan jabatan, kekayaan, maupun status sosial. Hal ini mengajarkan tentang kesetaraan, persaudaraan, dan ketundukan manusia di hadapan Sang Pencipta. Rangkaian ibadah haji mengandung banyak makna dan pelajaran kehidupan. Tawaf mengajarkan bahwa Allah menjadi pusat kehidupan seorang Muslim. Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah menggambarkan perjuangan dan ikhtiar tanpa menyerah, sebagaimana yang dicontohkan Siti Hajar. Wukuf di Arafah menjadi momentum refleksi diri dan memohon ampunan atas segala dosa, sedangkan lempar jumrah mengajarkan umat Islam untuk melawan hawa nafsu dan godaan setan. Lebih dari itu, ibadah haji juga menjadi simbol persatuan umat Islam dunia. Perbedaan bahasa, budaya, warna kulit, dan negara melebur dalam satu tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Dari sana lahir semangat ukhuwah Islamiyah dan kepedulian sosial terhadap sesama. Sepulang dari Tanah Suci, seorang haji diharapkan membawa perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Gelar haji bukan hanya penghormatan, tetapi amanah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Semoga setiap langkah para tamu Allah dimudahkan, diberikan kesehatan, serta memperoleh haji yang mabrur, yaitu haji yang diterima oleh Allah SWT dan membawa keberkahan dalam kehidupan.
ARTIKEL25/05/2026 | Helmi Anshari
Menjadikan Ibadah Haji sebagai Perjalanan Perubahan Diri
Menjadikan Ibadah Haji sebagai Perjalanan Perubahan Diri
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi merupakan perjalanan spiritual yang mengajarkan tentang keikhlasan, kesabaran, pengorbanan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Setiap tahunnya, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Makkah dengan tujuan yang sama, yaitu memenuhi panggilan Allah dan menyempurnakan rukun Islam. Haji menjadi simbol persatuan umat Islam tanpa memandang suku, jabatan, maupun status sosial. Semua mengenakan pakaian ihram yang sederhana sebagai tanda bahwa di hadapan Allah SWT seluruh manusia adalah sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Dalam setiap rangkaian ibadah haji terdapat pelajaran kehidupan yang sangat mendalam. Saat thawaf mengelilingi Ka’bah, umat Islam diingatkan bahwa hidup harus selalu berpusat kepada Allah SWT. Ketika wukuf di Arafah, manusia diajak merenungi dosa dan kesalahan serta memohon ampunan dengan penuh harap. Sedangkan sa’i mengajarkan tentang usaha dan ikhtiar sebagaimana perjuangan Siti Hajar mencari air untuk Nabi Ismail AS. Ibadah haji juga melatih kesabaran dan kepedulian sosial. Di tengah jutaan jamaah, seseorang belajar untuk saling membantu, menghormati, serta menjaga sikap dan ucapan. Nilai-nilai inilah yang seharusnya dibawa pulang setelah menunaikan ibadah haji. Predikat haji mabrur bukan hanya terlihat dari gelar atau pakaian yang dikenakan setelah pulang dari Tanah Suci, tetapi tercermin dari perubahan akhlak dan perilaku sehari-hari. Semakin peduli kepada sesama, semakin rajin beribadah, serta semakin jujur dan amanah dalam kehidupan. Bagi umat Islam yang belum memiliki kesempatan berhaji, jangan pernah berhenti berdoa dan berikhtiar. Karena panggilan haji bukan semata soal kemampuan materi, tetapi juga tentang kehendak dan panggilan dari Allah SWT. Semoga seluruh jamaah haji diberikan kesehatan, kelancaran, serta menjadi haji yang mabrur dan mabruroh. Dan bagi yang belum berangkat, semoga Allah SWT memudahkan langkah menuju Baitullah di waktu yang terbaik.
ARTIKEL22/05/2026 | Helmi Anshari
Ibadah Haji: Perjalanan Spiritual Menyempurnakan Rukun Islam
Ibadah Haji: Perjalanan Spiritual Menyempurnakan Rukun Islam
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi umat Islam yang mampu, baik secara fisik, mental, maupun finansial. Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah yang penuh makna spiritual dan kebersamaan ini. Haji bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seluruh rangkaian ibadah haji mengandung nilai kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, dan ketundukan kepada Sang Pencipta. Mulai dari thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, hingga melempar jumrah, semuanya mengajarkan umat Islam tentang makna kehidupan dan ketaatan. Salah satu momen paling penting dalam ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Pada saat itu, seluruh jamaah berkumpul dengan pakaian ihram yang sama tanpa membedakan jabatan, suku, maupun status sosial. Hal ini menggambarkan persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT. Semua datang dengan tujuan yang sama, yaitu memohon ampunan dan ridha-Nya. Selain sebagai ibadah spiritual, haji juga memperkuat ukhuwah Islamiyah. Umat Islam dari berbagai negara saling bertemu, berinteraksi, dan merasakan kebersamaan sebagai satu umat. Perbedaan bahasa dan budaya tidak menjadi penghalang untuk saling membantu dan menghormati. Ibadah haji juga menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Pakaian ihram yang sederhana melambangkan kesederhanaan manusia ketika menghadap Allah SWT. Karena itu, sepulang dari Tanah Suci, diharapkan setiap jamaah mampu membawa perubahan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ibadah maupun akhlak sosial. Melalui ibadah haji, umat Islam diajak untuk memperkuat keimanan, memperbanyak rasa syukur, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Haji bukan hanya tentang perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT.
ARTIKEL19/05/2026 | Helmi Anshari
Semangat Berbagi di Hari Raya Iduladha
Semangat Berbagi di Hari Raya Iduladha
Kurban dan Kepedulian terhadap Sesama Iduladha bukan hanya menjadi perayaan hari besar umat Islam, tetapi juga momentum untuk memperkuat rasa kepedulian terhadap sesama. Salah satu bentuk kepedulian tersebut diwujudkan melalui ibadah kurban, di mana umat Islam menyisihkan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban dan membagikannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Di banyak daerah, daging kurban menjadi makanan yang sangat dinantikan oleh masyarakat kurang mampu. Tidak sedikit keluarga yang hanya dapat menikmati daging saat Hari Raya Iduladha tiba. Karena itu, kurban memiliki makna sosial yang sangat besar dalam membantu masyarakat dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Kurban juga mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki bukan hanya untuk diri sendiri. Di dalam setiap harta terdapat hak orang lain yang perlu diperhatikan. Dengan berbagi melalui kurban, umat Islam diajak untuk menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan semangat gotong royong. Selain membantu masyarakat secara langsung, ibadah kurban mampu mempererat hubungan antarwarga. Proses penyembelihan, pengemasan, hingga pendistribusian daging dilakukan bersama-sama dengan semangat kebersamaan. Hal ini menjadi cerminan bahwa Islam mengajarkan nilai persatuan dan saling membantu. Melalui ibadah kurban, umat Islam tidak hanya mendapatkan pahala ibadah, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Semangat berbagi inilah yang menjadikan Iduladha sebagai momentum untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
ARTIKEL18/05/2026 | Helmi Anshari
Kurban, Wujud Syukur dan Kepedulian kepada Sesama
Kurban, Wujud Syukur dan Kepedulian kepada Sesama
Hari Raya Iduladha menjadi momentum istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari yang penuh keberkahan ini, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan ternak seperti sapi, kambing, atau domba. Lebih dari itu, kurban mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh ketaatan bersedia menjalankan perintah Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Dari peristiwa tersebut, umat Islam belajar bahwa cinta kepada Allah harus ditempatkan di atas segalanya. Di tengah kehidupan masyarakat saat ini, semangat kurban memiliki makna sosial yang sangat besar. Daging kurban yang dibagikan mampu menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang jarang menikmati makanan bergizi seperti daging. Kurban juga mengajarkan bahwa rezeki yang dimiliki bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. Dengan berbagi, tercipta rasa persaudaraan, kepedulian, dan kebersamaan di tengah masyarakat. Selain itu, ibadah kurban menjadi sarana membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya untuk berkurban, maka ia sedang melatih diri untuk lebih ikhlas dan peduli terhadap keadaan sekitar. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.” Ayat tersebut mengingatkan bahwa inti dari kurban adalah ketakwaan dan keikhlasan hati dalam menjalankan perintah Allah SWT. Melalui momentum Iduladha, umat Islam diharapkan tidak hanya semangat berkurban saat hari raya saja, tetapi juga terus menanamkan nilai berbagi dan membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari. Sebab sejatinya, keberkahan hidup tumbuh dari kepedulian terhadap orang lain.
ARTIKEL11/05/2026 | Helmi Anshari
Kurban: Belajar Melepaskan untuk Mendapatkan Keberkahan
Kurban: Belajar Melepaskan untuk Mendapatkan Keberkahan
Setiap datangnya Iduladha, umat Islam diingatkan pada satu ibadah yang penuh makna, yaitu kurban. Di balik prosesi penyembelihan hewan, tersimpan pelajaran besar tentang kehidupan: bagaimana manusia belajar melepaskan sesuatu yang dicintai demi ketaatan kepada Allah SWT. Kurban bukan hanya tentang mampu atau tidaknya seseorang membeli hewan terbaik. Lebih dari itu, kurban adalah tentang kesiapan hati untuk berbagi dan berkorban. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terikat dengan harta, kenyamanan, dan kepentingan pribadi. Melalui kurban, kita dilatih untuk mengurangi keterikatan tersebut. Makna Pengorbanan yang Sesungguhnya Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa pengorbanan sejati bukan sekadar kehilangan, melainkan bentuk kepercayaan penuh kepada Allah. Ketika seseorang berani mengorbankan apa yang ia miliki, di situlah letak keimanan diuji. Nilai ini relevan hingga saat ini. Tidak semua pengorbanan berbentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, bahkan kepedulian kepada sesama. Kurban dan Kepedulian Sosial Di sisi lain, kurban menjadi jembatan kebahagiaan bagi mereka yang jarang merasakan kecukupan. Daging kurban yang dibagikan menjadi simbol bahwa dalam Islam, kesejahteraan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga harus dirasakan bersama. Banyak saudara kita yang mungkin hanya bisa menikmati daging setahun sekali, yaitu saat Iduladha. Dari sini, kurban menjadi sarana nyata untuk menghadirkan senyum dan harapan. Membangun Kepekaan di Tengah Kesibukan Di era modern yang serba cepat, manusia sering lupa untuk berhenti sejenak dan melihat sekitar. Kurban hadir sebagai pengingat bahwa di balik kesibukan, ada tanggung jawab sosial yang tidak boleh diabaikan. Ibadah ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak hanya datang dari apa yang kita kumpulkan, tetapi juga dari apa yang kita berikan. Kurban sebagai Investasi Akhirat Apa yang dikurbankan di dunia sejatinya bukanlah kehilangan, melainkan investasi. Setiap tetes darah hewan kurban menjadi saksi atas keikhlasan seorang hamba. Allah SWT menilai niat dan ketakwaan, bukan semata besar kecilnya hewan yang disembelih. Dengan demikian, kurban menjadi salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama manusia.
ARTIKEL06/05/2026 | Helmi Anshari
Kurban: Ibadah yang Menghidupkan Kepedulian Sosial Umat
Kurban: Ibadah yang Menghidupkan Kepedulian Sosial Umat
Hari Raya Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga momentum penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan memperkuat solidaritas umat. Ibadah kurban mengandung nilai spiritual sekaligus sosial yang sangat dalam, karena di dalamnya terdapat perintah untuk berbagi dan membantu sesama. Makna Kurban dalam Islam Secara bahasa, kurban berasal dari kata qarraba yang berarti mendekatkan diri. Dalam konteks syariat, kurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak pada hari Idul Adha dan hari tasyrik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Perintah berkurban telah dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menunjukkan bahwa kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Kurban Bukan Sekadar Ritual Seringkali kurban dipahami hanya sebagai rutinitas tahunan. Padahal, kurban mengajarkan nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Allah SWT berfirman: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi kurban bukan pada fisik hewan, melainkan pada niat dan ketakwaan orang yang melaksanakannya. Dimensi Sosial Ibadah Kurban Salah satu keistimewaan kurban adalah dampaknya yang langsung dirasakan masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan. Daging kurban didistribusikan kepada fakir miskin, sehingga mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan yang dilakukan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).” (HR. Tirmidzi) Selain itu, kurban juga menjadi sarana pemerataan pangan, mempererat hubungan sosial, dan mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat. Kurban Sebagai Wujud Kepedulian Nyata Melalui kurban, umat Islam diajak untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap kondisi sekitar. Bagi sebagian masyarakat, daging merupakan makanan yang jarang dikonsumsi. Oleh karena itu, kurban menjadi momen istimewa yang membawa kebahagiaan bagi mereka. Lebih dari itu, kurban juga melatih keikhlasan dalam berbagi dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Peran Lembaga dalam Pengelolaan Kurban Di era modern, pengelolaan kurban semakin berkembang dengan melibatkan lembaga resmi seperti BAZNAS. Hal ini bertujuan agar distribusi kurban lebih merata, tepat sasaran, dan menjangkau daerah-daerah yang membutuhkan. Dengan pengelolaan yang baik, kurban tidak hanya menjadi ibadah tahunan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi umat.
ARTIKEL28/04/2026 | Helmi Anshari
Menggali Hikmah Kurban: Dari Ketakwaan hingga Kepedulian Sosial
Menggali Hikmah Kurban: Dari Ketakwaan hingga Kepedulian Sosial
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan utama yang dilaksanakan umat Islam pada Hari Raya Idul Adha. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban mengandung berbagai hikmah yang menyentuh aspek spiritual, sosial, hingga kemanusiaan. Allah SWT berfirman: "Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi utama dari ibadah kurban adalah ketakwaan, bukan sekadar ritual fisik semata. 1. Meningkatkan Ketakwaan kepada Allah SWT Hikmah utama dari ibadah kurban adalah melatih keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT. Ibadah ini meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk kepatuhan kepada perintah Allah. Dari peristiwa tersebut, umat Islam diajarkan untuk menempatkan perintah Allah di atas segala-galanya. 2. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Kurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Daging kurban didistribusikan kepada masyarakat, khususnya fakir miskin, sehingga mereka juga dapat merasakan kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha. Hal ini mempererat hubungan antar sesama dan menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang membutuhkan. 3. Melatih Keikhlasan dan Pengorbanan Berkurban mengajarkan bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang harus dikorbankan demi kebaikan yang lebih besar. Tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, dan kepentingan pribadi. Dengan berkurban, seorang muslim dilatih untuk ikhlas dalam memberi tanpa mengharapkan balasan. 4. Menghapus Sifat Cinta Dunia Berlebihan Ibadah kurban juga menjadi sarana untuk mengurangi kecintaan berlebihan terhadap harta. Dengan mengeluarkan sebagian rezeki untuk berkurban, seseorang belajar bahwa harta hanyalah titipan yang harus dimanfaatkan di jalan kebaikan. 5. Menguatkan Persatuan dan Ukhuwah Momentum Idul Adha menghadirkan kebersamaan di tengah masyarakat, mulai dari proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Kegiatan ini menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta membangun solidaritas sosial. 6. Menjadi Sarana Pemerataan Gizi Bagi sebagian masyarakat, daging merupakan makanan yang jarang dikonsumsi. Melalui kurban, mereka dapat memperoleh asupan protein yang bermanfaat bagi kesehatan. Hal ini menjadikan kurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
ARTIKEL27/04/2026 | Helmi Anshari
Hukum Berkurban: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasannya dalam Islam
Hukum Berkurban: Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasannya dalam Islam
Ibadah kurban merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam, khususnya saat Hari Raya Idul Adha. Namun, masih banyak yang bertanya, apakah berkurban itu wajib atau hanya sunnah? Untuk memahami hal ini, penting bagi kita merujuk pada dalil Al-Qur’an, hadits, serta pendapat para ulama. Perintah Berkurban dalam Islam Allah SWT berfirman: "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menjadi dasar utama disyariatkannya ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah SWT. Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: "Barang siapa yang memiliki kelapangan (harta), namun tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ibnu Majah) Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah kurban bagi umat Islam yang mampu. Perbedaan Pendapat Ulama Para ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum berkurban, yaitu: 1. Pendapat Sunnah Muakkadah (Sangat Dianjurkan) Mayoritas ulama, termasuk dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Artinya, ibadah ini tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan bagi setiap muslim yang mampu. Meninggalkannya tidak berdosa, namun kehilangan keutamaan yang besar. 2. Pendapat Wajib Sebagian ulama, seperti dari mazhab Hanafi, berpendapat bahwa berkurban hukumnya wajib bagi muslim yang mampu, yaitu yang memiliki kelebihan harta. Pendapat ini didasarkan pada perintah dalam Al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan penekanan kuat terhadap pelaksanaan kurban. Siapa yang Dianjurkan Berkurban? Secara umum, ibadah kurban dianjurkan bagi muslim yang: Mampu secara finansial Memiliki kelebihan harta setelah kebutuhan pokok terpenuhi Tidak dalam kondisi kesulitan ekonomi Hikmah Berkurban Terlepas dari perbedaan hukum, ibadah kurban memiliki banyak hikmah, di antaranya: Mendekatkan diri kepada Allah SWT Meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS Meningkatkan kepedulian sosial Membantu masyarakat yang membutuhkan Kesimpulan Hukum berkurban dalam Islam diperselisihkan oleh para ulama, antara wajib dan sunnah muakkadah. Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa kurban adalah sunnah yang sangat dianjurkan bagi yang mampu. Oleh karena itu, bagi umat Islam yang memiliki kelapangan rezeki, sangat dianjurkan untuk melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian terhadap sesama. Mari tunaikan ibadah kurban dengan penuh keikhlasan, karena setiap tetes darah yang mengalir akan menjadi saksi ketaatan kita kepada Allah SWT.
ARTIKEL24/04/2026 | Helmi Anshari
Bolehkah Qurban Online atau Transfer? Apakah Sah Menurut Islam?
Bolehkah Qurban Online atau Transfer? Apakah Sah Menurut Islam?
Di era digital seperti sekarang, kemudahan bertransaksi membuat ibadah kurban juga bisa dilakukan secara online atau melalui transfer. Banyak lembaga, termasuk BAZNAS, menyediakan layanan kurban digital yang memudahkan masyarakat dalam menunaikan ibadah tanpa harus datang langsung ke lokasi penyembelihan. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah qurban online atau transfer itu sah menurut syariat Islam? Hukum Qurban Online dalam Islam Pada dasarnya, qurban online hukumnya sah selama memenuhi rukun dan syarat kurban sesuai syariat Islam. Dalam praktiknya, qurban online menggunakan sistem wakalah (perwakilan), yaitu seseorang mewakilkan penyembelihan hewan kurbannya kepada pihak lain. Dalam Islam, wakalah diperbolehkan. Hal ini sejalan dengan prinsip bahwa seseorang boleh mewakilkan urusan tertentu kepada pihak lain selama dilakukan dengan jelas dan amanah. Dalil Kebolehan Wakalah dalam Ibadah Konsep wakalah memiliki dasar dalam syariat, salah satunya dari hadits yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW, di mana beliau pernah mewakilkan penyembelihan hewan kurban kepada sahabatnya. Hal ini menunjukkan bahwa: Penyembelihan tidak harus dilakukan sendiri Boleh diwakilkan kepada pihak yang terpercaya Yang terpenting adalah niat dan pelaksanaannya sesuai syariat Syarat Qurban Online Agar Sah Agar qurban online atau transfer dinyatakan sah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Niat Berqurban Pekurban harus memiliki niat yang jelas untuk beribadah kepada Allah SWT. 2. Melalui Lembaga atau Pihak Terpercaya Pastikan lembaga yang dipilih amanah, transparan, dan memiliki sistem pengelolaan yang jelas, seperti BAZNAS. 3. Hewan Memenuhi Syarat Syariat Hewan harus: Sehat Tidak cacat Cukup umur Termasuk hewan ternak yang diperbolehkan 4. Penyembelihan Sesuai Syariat Proses penyembelihan harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu setelah salat Idul Adha hingga hari tasyrik. 5. Distribusi Tepat Sasaran Daging kurban disalurkan kepada yang berhak, terutama fakir dan miskin. Keunggulan Qurban Online Selain sah secara syariat, qurban online juga memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: Praktis dan mudah tanpa harus datang langsung Menjangkau daerah terpencil yang membutuhkan Distribusi lebih merata Dikelola secara profesional oleh lembaga resmi Peran Lembaga dalam Qurban Digital Lembaga seperti BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat berperan penting dalam memastikan: Hewan kurban sesuai standar Proses penyembelihan sesuai syariat Penyaluran tepat sasaran Laporan transparan kepada pekurban Dengan demikian, masyarakat dapat berkurban dengan tenang dan penuh keikhlasan. Kesimpulan Qurban online atau melalui transfer diperbolehkan dan sah dalam Islam, selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Sistem wakalah menjadi dasar utama dalam praktik ini, sehingga ibadah tetap bernilai meskipun dilakukan tanpa kehadiran langsung. Di era digital ini, qurban tidak hanya menjadi ibadah personal, tetapi juga sarana untuk memperluas manfaat dan menjangkau lebih banyak saudara yang membutuhkan.
ARTIKEL22/04/2026 | Helmi Anshari
Tidak Hadir Saat Kurban Disembelih, Apakah Kurban Tetap Sah dan Berpahala? Ini Penjelasan Ulama
Tidak Hadir Saat Kurban Disembelih, Apakah Kurban Tetap Sah dan Berpahala? Ini Penjelasan Ulama
Kurban adalah salah satu ibadah yang dilakukan secara rutin oleh umat Islam secara kolektif setiap satu tahun. Karena dilakukan secara bersama-sama di seluruh dunia, maka ibadah kurban menjadi salah satu syi'ar agama Islam. Secara hukum fiqih, kurban bagi umat Islam hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) bagi setiap muslim yang memiliki harta lebih dari kebutuhannya beserta keluarga selama hari raya Idul Adha dan hari tasyriq. Sedangkan bagi Rasulullah saw, kurban hukumnya wajib. (Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyatul Bajuri, [Jeddah, Darul Minhaj: 2016], juz IV, halaman 360). Allah swt memerintahkan Rasulullah saw untuk mengikuti ajaran datuknya, yakni Nabi Ibrahim as. Hal ini sebagaimana termaktub dalam surat An-Nahl ayat 123: ????? ???????????? ???????? ???? ???????? ??????? ???????????? ???????? ? ????? ????? ???? ??????????????Artinya, "Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): 'Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif' dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah". Meski mayoritas ahli tafsir mengatakan yang dimaksud agama Ibrahim as adalah tauhidnya, yakni tidak menyekutukan Allah swt, namun ada beberapa ulama yang berpendapat lain sebagaimana dikutip Imam Al-Baghawi: ???? ??? ?????? : ??? ????? ??? ???? ???? ???? ?????? ?????? ??????? ??? ?? ??? ?? ?????? ? ??? ?? ???? ??? ???? ?? Artinya, "Para ulama ushul berpendapat bahwa Rasulullah saw diperintahkan mengikuti syariat Nabi Ibrahim as, kecuali bagian yang di-naskh (diganti), syariat Ibrahim as yang tidak di-naskh, menjadi syariat Rasulullah saw juga." (Tafsirul Baghawi, [Beirut, Dar Ihya'it Turatsil 'Arabi: 2000], juz III, halaman 102). Pendapat ini menemukan relevansinya ketika kita melihat bahwa beberapa syariat Islam tampak identik dengan syariat Nabi Ibrahim as, seperti khitan, meramaikan Ka'bah, dan kurban.Dahulu kala Nabi Ibrahim as diperintahkan menyembelih putranya. Saat akan melakukannya, Allah swt memerintahkan agar Ibrahim as menyembelih kambing sebagai gantinya. Kisah ini kemudian menjadi bahan renungan ('ibrah) bagi setiap Muslim, khususnya bagi yang melaksanakan kurban. Betapa Ibrahim as sangat teguh memegang imannya dan menempatkan Allah swt sebagai prioritas utama, mengalahkan apapun yang sangat ia cintai, termasuk seorang anak. Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Anas ra, beliau menceritakan bagaimana Rasulullah saw menyembelih kurbannya: ?????? ?????????? ??? ???? ???? ???? ???????????? ???????????? ???????????? ???????? ???????? ????? ???????????? ???????? ???????????? ????????????? ??????? Artinya, "Rasulullah menyembelih dua kambing berwarna putih, aku melihatnya meletakkan telapak kaki di atas bagian samping leher kedua kambing tersebut. Beliau menyebut nama Allah, membaca takbir, kemudian menyembelih." (HR Al-Bukhari). Berdasarkan hadits ulama menyimpulkan, orang yang berkurban apabila laki-laki, maka sunnah menyembelih kurbannya sendiri. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa melaksanakan kesunahan seperti itu. Karena menyembelih hewan, apalagi kambing, sapi, dan unta, adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan? Syekh Ibrahim Al-Bajuri dalam Hasyiyah-nya menjelaskan: ???? ?????? ?? ????? ?? ????? ? ??? ?? ???????? ??????: ??????? ????? ?? ?? ???? ?????. ???? ??? ??? ?? ????? ?? ?????? ? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ?????? ???? ????: ???? ??? ?????? ???????? ???? ???? ???? ?? ???? ???? ?? ?? ??? ?? ?????. ???? ?????? ???? ?????? Artinya, "Perempuan, khuntsa, dan laki-laki yang tidak bisa menyembelih sunnah mewakilkan kepada orang lain untuk menyembelih, sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Majmu' karya An-Nawawi. Bagi orang yang mewakilkan penyembelihan sebagaimana disebutkan sebelumnya, sunnah menyaksikan penyembelihan kurbannya. Karena Rasulullah saw memerintahkan pada Fathimah ra: "Bangun dan saksikanlah penyembelihan kurbanmu, sesungguhnya dengan tetesan pertama darah kurban tersebut, dosa-dosamu yang telah lalu akan diampuni." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, dan sanadnya dinilai shahih". (Al-Bajuri, IV/361). Berdasarkan penjelasan Al-Bajuri, orang yang tidak menyembelih kurbannya sendiri dianjurkan untuk menyaksikan penyembelihannya. Ketentuan ini berdasarkan sabda Rasulullah saw pada putrinya, Fathimah ra. Namun, Tetap saja tidak semua orang dapat menyaksikan penyembelihan kurbannya. Sebabnya beragam. Ada yang karena tidak tega atau takut melihat darah, ada yang karena tempatnya jauh, misalnya ia berkurban di luar kota tempat tinggalnya, ada juga yang tidak bisa hadir karena ada suatu hal yang tak bisa ditinggal, atau penyebab lain. Lalu bagaimana keabsahan ibadah kurbannya? Dari penjelasan Al-Bajuri di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak menghadiri penyembelihan kurbannya, ibadah kurbannya tetap sah dan pahala kurbannya tetap utuh, karena menyaksikan penyembelihan kurban adalah sebuah anjuran, bukan kewajiban. Wallahu a'lam.
ARTIKEL21/04/2026 | Helmi Anshari
Kurban, Ibadah yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Kurban, Ibadah yang Menggerakkan Ekonomi Rakyat
Idul Kurban tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual semata, tetapi juga memiliki peran besar sebagai motor penggerak ekonomi rakyat yang sering luput dari perhatian. Setiap tahunnya, momentum ini mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari peternakan, logistik, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di balik aktivitas penyembelihan hewan kurban di masjid dan lingkungan masyarakat, terjadi perputaran ekonomi yang sangat besar. Tidak hanya menciptakan peluang usaha, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan serta memperkuat solidaritas sosial melalui distribusi daging kepada masyarakat yang membutuhkan. Dampak Ekonomi yang Nyata Dalam dua tahun terakhir, pasokan hewan kurban mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 11,1 persen per tahun. Jika tren ini berlanjut, kebutuhan hewan kurban pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 2,2 hingga 2,4 juta ekor, dengan nilai ekonomi berkisar antara Rp27 triliun hingga Rp60 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa Idul Kurban memiliki kontribusi signifikan terhadap sektor peternakan dan ekonomi syariah. Di tengah tantangan perlambatan di beberapa sektor, kurban menjadi bukti bahwa konsumsi berbasis keagamaan mampu menciptakan efek berantai yang nyata bagi ekonomi riil. Menggerakkan UMKM dan Ekonomi Lokal Dampak positif kurban tidak hanya dirasakan oleh peternak. Lonjakan permintaan hewan kurban turut menggerakkan berbagai sektor usaha lokal. UMKM mendapatkan manfaat dari meningkatnya permintaan terhadap layanan seperti: Jasa pengemasan daging Penyewaan alat pemotongan Penyediaan tenda dan perlengkapan Kuliner berbasis olahan daging Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa usaha kemasan daging meningkat hingga 40 persen, sementara penyewaan tenda dan peralatan pemotongan naik sekitar 25 persen. Selain itu, aktivitas distribusi dan logistik hewan kurban juga menyerap banyak tenaga kerja musiman, sehingga turut membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Meningkatkan Kesejahteraan dan Gizi Masyarakat Di wilayah prasejahtera, distribusi daging kurban memiliki dampak yang sangat berarti. Bagi banyak keluarga, daging merupakan bahan pangan yang jarang dikonsumsi karena keterbatasan ekonomi. Melalui kurban, masyarakat dapat memperoleh asupan protein yang lebih baik, yang berkontribusi dalam: Meningkatkan kualitas gizi Mengurangi risiko stunting Mendukung kesehatan keluarga Lebih dari itu, kurban juga memperkuat rasa kebersamaan dan kepedulian sosial, di mana masyarakat merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam kebahagiaan bersama. Transformasi Kurban di Era Digital Seiring perkembangan teknologi, pelaksanaan kurban kini semakin mudah melalui platform digital. Masyarakat dapat berkurban secara praktis, sementara distribusi daging dapat menjangkau wilayah terpencil hingga pelosok negeri. Diperkirakan, nilai transaksi kurban digital telah mencapai sekitar Rp2 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga memperluas akses serta meningkatkan pemerataan distribusi manfaat kurban. Namun demikian, digitalisasi juga perlu diimbangi dengan tata kelola yang baik agar tetap transparan, amanah, dan tepat sasaran. Tantangan dan Peluang ke Depan Di balik besarnya potensi, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan, seperti: Kenaikan harga hewan ternak Ketergantungan pada impor Pengelolaan limbah kurban yang belum optimal Untuk itu, diperlukan langkah terpadu, antara lain: Penguatan peternakan lokal melalui pelatihan dan dukungan pemerintah Pemberdayaan koperasi dan BUMDes sebagai penggerak ekonomi desa Pemanfaatan limbah kurban menjadi produk bernilai ekonomi Integrasi kurban dengan zakat, CSR, dan program pemberdayaan Dengan pengelolaan yang baik, kurban tidak hanya menjadi ibadah tahunan, tetapi juga dapat menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Kurban sebagai Kekuatan Sosial-Ekonomi Idul Kurban sejatinya adalah perpaduan antara nilai spiritual dan sosial. Ia tidak hanya mempererat hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat hubungan antar sesama manusia. Melalui kurban, terjadi distribusi kekayaan, pemberdayaan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika dikelola secara profesional dan kolaboratif, kurban dapat menjadi kekuatan transformasional yang mendorong ekonomi inklusif dan berkeadilan. Mari jadikan momentum Idul Kurban sebagai sarana untuk tidak hanya beribadah, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun kesejahteraan umat.
ARTIKEL17/04/2026 | Helmi Anshari
Manfaat Berkurban di Idul Adha Tidak Hanya Untuk Dunia, Tapi Juga Akhirat
Manfaat Berkurban di Idul Adha Tidak Hanya Untuk Dunia, Tapi Juga Akhirat
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari yang penuh berkah ini, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus wujud kepedulian terhadap sesama. Namun, ibadah kurban tidak hanya memiliki manfaat yang bersifat duniawi. Lebih dari itu, kurban juga memberikan dampak yang besar bagi kehidupan akhirat. Oleh karena itu, memahami manfaat berkurban secara menyeluruh dapat meningkatkan keimanan dan kesungguhan dalam menjalankannya. Mendekatkan Diri kepada Allah SWT Manfaat utama dari berkurban adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ibadah ini merupakan bentuk ketaatan atas perintah-Nya, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Allah SWT berfirman: "Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa esensi dari kurban bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada keikhlasan dan ketakwaan seorang hamba. Menghapus Dosa dan Menambah Pahala Berkurban juga menjadi salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap bagian dari hewan kurban akan menjadi pahala bagi orang yang berkurban. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah kurban tidak hanya berdampak di dunia, tetapi juga menjadi bekal berharga di akhirat kelak. Menumbuhkan Keikhlasan dan Jiwa Pengorbanan Ketika seseorang rela mengeluarkan harta terbaiknya untuk berkurban, ia sedang melatih dirinya untuk menjadi pribadi yang ikhlas dan tidak terikat pada dunia. Ibadah kurban mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan, dan sebagian darinya harus dibagikan kepada yang membutuhkan. Nilai pengorbanan ini menjadi salah satu pelajaran penting dalam membentuk karakter seorang Muslim. Meningkatkan Kepedulian Sosial Manfaat berkurban juga dirasakan secara langsung oleh masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu. Daging kurban yang dibagikan menjadi sumber kebahagiaan dan kecukupan bagi banyak orang, terutama pada hari raya. Melalui ibadah kurban, tercipta rasa kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Menjadi Wujud Syukur atas Nikmat Allah Berkurban juga merupakan bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan menyisihkan sebagian harta untuk berkurban, seorang Muslim menunjukkan bahwa ia menyadari segala nikmat berasal dari Allah. Rasa syukur ini tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Mempererat Ukhuwah Islamiyah Ibadah kurban yang dilaksanakan secara bersama-sama di lingkungan masyarakat juga mempererat hubungan antar sesama Muslim. Proses penyembelihan, pembagian, hingga penyaluran daging kurban menciptakan interaksi sosial yang positif. Hal ini menjadikan kurban sebagai sarana memperkuat persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. Berkurban bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan amalan yang memiliki makna dan manfaat yang sangat luas, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Melalui kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, serta rasa syukur kepada Allah SWT. Oleh karena itu, mari manfaatkan momen Idul Adha untuk melaksanakan ibadah kurban dengan penuh keimanan dan ketakwaan. Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT dan menjadi bekal kebaikan di akhirat kelak.
ARTIKEL16/04/2026 | Helmi Anshari
Memahami Makna Kurban dalam Islam: Ibadah Pengorbanan dan Ketakwaan kepada Allah
Memahami Makna Kurban dalam Islam: Ibadah Pengorbanan dan Ketakwaan kepada Allah
Setiap memasuki bulan Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut salah satu ibadah penting dalam Islam, yaitu ibadah kurban. Ibadah ini dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun, sebagian orang masih memandang kurban hanya sebagai kegiatan menyembelih hewan semata. Padahal, dalam Islam kurban memiliki makna yang jauh lebih dalam. Kurban tidak hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, pengorbanan, serta bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Memahami makna kurban secara benar akan membuat ibadah ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Makna Kurban dalam Islam Secara bahasa, kata kurban berasal dari bahasa Arab qurban yang berakar dari kata qaruba, yang berarti dekat. Dalam konteks ibadah, kurban berarti menyembelih hewan ternak tertentu pada Hari Raya Idul Adha sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian, kurban merupakan ibadah yang bertujuan memperkuat hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Melalui kurban, seorang Muslim menunjukkan ketaatan serta kesediaan untuk berkorban demi menjalankan perintah Allah. Lebih dari itu, ibadah kurban juga mengandung makna spiritual yang sangat dalam. Ketika seseorang berkurban, ia tidak hanya mengorbankan harta untuk membeli hewan, tetapi juga berusaha menghilangkan sifat egois, menumbuhkan keikhlasan, serta memperkuat rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menegaskan bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah daging atau darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang melaksanakannya. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai Teladan Kurban Ibadah kurban tidak dapat dipisahkan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban dalam Islam. Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Perintah tersebut tentu merupakan ujian yang sangat berat. Namun Nabi Ibrahim tetap menjalankannya dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail, putranya menjawab dengan penuh kesabaran: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat: 102) Karena keikhlasan dan ketaatan mereka, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan sebagai bentuk rahmat dan penghargaan atas ketaatan mereka. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi teladan bagi umat Islam dalam melaksanakan ibadah kurban setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijjah. Jenis Hewan Kurban dan Ketentuannya Dalam pelaksanaan ibadah kurban, terdapat beberapa ketentuan yang harus diperhatikan agar kurban yang dilakukan sah menurut syariat Islam. Hewan yang diperbolehkan untuk dijadikan kurban adalah hewan ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing, dan domba. Selain itu, hewan tersebut harus memenuhi syarat tertentu, seperti usia minimal dan kondisi kesehatan yang baik. Misalnya, kambing atau domba minimal berusia satu tahun, sedangkan sapi atau kerbau minimal berusia dua tahun. Hewan yang akan dijadikan kurban juga tidak boleh cacat, sakit, atau terlalu kurus. Hal ini menunjukkan bahwa dalam beribadah kepada Allah, umat Islam dianjurkan untuk memberikan yang terbaik, bukan sesuatu yang kurang layak. Setelah disembelih, daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat. Sebagian dapat dikonsumsi oleh orang yang berkurban, sebagian diberikan kepada kerabat, dan sebagian lagi dibagikan kepada fakir miskin agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Nilai-Nilai Spiritual dalam Ibadah Kurban Ibadah kurban mengandung banyak nilai spiritual yang dapat membentuk karakter seorang Muslim. Pertama, kurban mengajarkan keikhlasan dalam beribadah. Seseorang yang berkurban melakukannya semata-mata karena Allah, bukan untuk mencari pujian atau pengakuan dari manusia. Kedua, kurban menumbuhkan kepedulian sosial. Melalui pembagian daging kurban, masyarakat yang kurang mampu dapat merasakan kebahagiaan dan kecukupan pangan pada hari raya. Ketiga, kurban melatih pengorbanan dan kesabaran. Seperti teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, umat Islam diajarkan untuk rela berkorban demi menjalankan perintah Allah. Keempat, kurban menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Kelima, ibadah kurban juga memperkuat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan antar sesama Muslim, karena pelaksanaannya sering dilakukan secara bersama-sama di lingkungan masyarakat. Ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan salah satu bentuk ibadah yang sarat dengan makna spiritual dan sosial. Melalui kurban, umat Islam diajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, serta rasa syukur kepada Allah SWT. Dengan memahami makna kurban secara lebih mendalam, diharapkan setiap Muslim dapat menjalankan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan ketakwaan. Semoga ibadah kurban yang kita lakukan menjadi amal yang diterima oleh Allah SWT serta membawa manfaat bagi sesama.
ARTIKEL14/04/2026 | Helmi Anshari
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Prov. Kalimantan Barat.

Lihat Daftar Rekening →