Tadarus Al-Qur”an & Tadarus Kemanusiaan

Oleh : Ketua BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat, Uray M. Amin, S.T., 

Istilah tadarus semakin populer di bulan Ramadan ini. kegiatan ini tak hanya dilakukan di masjid atau musala, tapi juga di rumah.

Istilah tadarus sebenarnya agak berbeda antara bentuk kegiatan dan makna bahasanya. Tadarus yang lazim dilakukan saat ini adalah berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya membaca Al-Quran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak.
Sedangkan dari makna bahasa, tadarus berasal dari asal kata darosa-yadrusu, yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji, dan mengambil pelajaran. Lalu ketambahan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadaarosa-yatadaarosu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar atau mempelajari secara lebih mendalam.

Adapun kegiatan ‘tadarusan’ yang sering dijumpai, sepertinya nyaris tanpa pengkajian makna tiap ayat, yang ada hanya sekadar membaca saja.

DI MASA NABI
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Adalah seorang dari kami jika telah mempelajari 10 ayat maka ia tidak menambahnya sampai ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya.” Hadis ini di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq-nya atas tafsir At-Thabari (I/80).
Bahwa mereka yang menerima bacaan dari Nabi SAW (menceritakan) adalah mereka apabila mempelajari sepuluh ayat tidak pernah meninggalkannya (tidak menambahnya) sebelum mengaplikasikan apa yang dikandungnya, maka kami mempelajari ilmu Al-Quran dan amalnya sekaligus.

Jika kita pahami bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagaimana firman Allah :

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah : 185)

Ramadhan, Al-Qur”an adalah fitrah kemanuasian, dengan menghidupkan Ramadhan dengan pemahaman pengamalan Al-Qur”an baik vertikal maupun horizontal, sebagaimana yang Rasullullah contohkan ada beberapa hal yang perlu difahami :
Pertama, Ramadhan adalah kesempatan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, untuk membersihkan dosa dan residu yang boleh jadi sudah berkarat selama sebelas bulan.
Melalui puasa Ramadhan dan menghidupkan malam-malam Ramadhan untuk mensucikan dosa vertikal dan horizontal kita.

Kedua, pada bulan Ramadhan, adalah awal diturunkannya Al-Qur’an.

Al-Qur’an diturunkan sebagai hidayah atau petunjuk bagi manusia, agar mampu merawat fitrah kemanusiaannya, dapat memanusiakan dirinya sendiri dan juga orang lain.

Fitrah manusia adalah bertuhankan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Karena itu, manusia yang menjaga fitrahnya, dia akan senantiasa rendah hati, tawadhu’, dan menjauhkan diri dari sombong, takabur, riya dan sum’ah

Orang yang menjaga fitrahnya, ia selalu berusaha untuk belajar sepanjang hayat, bertutur kata secara lembut, menjaga akhlakul karimah dan budi pekertinya, agar ia mampu menduplikasi sifat Rahman dan Rahim Allah.

Imam Al-Ghazali, penulis Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad saw menyatakan, “Meskipun begitu banyak buku ditulis tentang Nabi Muhammad, sosok agung itu tidak akan pernah selesai diungkap secara final.
Sebab batinnya mensamudra, dan ilmunya mencakrawala.

Di dalam dirinya tersimpan segala kearifan masa lalu, dan segala pengetahuan suci masa depan.

Semoga melalui pemahaman makna diturunkannya Alquran di bulan Ramadhan dan kita mampu menjadikan ibadah puasa menjadi perisai diri kita, wasilah dan instrument untuk membersihkan dan mensucikan diri, untuk kembali kepada fitrah kemanusiaan kita. Sebagai wujud dari Tadarus Qur”an sekaligus Tadarus Kemanusian kita, Aamiin YRA
Nashrun Minallahi Wa Fathun Qarib Wa Bashshiril Mu”minin,.

*Ketua BAZNAS Provinsi Kalimantan Barat.

(Kami mengajak masyarakat Kalimantan Barat untuk berzakat dan bersedekah di BAZNAS provinsi Kalimantan Barat yang berkantor di Masjid Raya Mujahidin Pontianak)